Di Balik Selimut Kabut Puncak Gede, Nglanggeran

Halimun bergerak demikian cepat. Menyergap kami dalam hening. Tak ada waktu untuk mengelak. Dalam hitungan detik, Puncak Gede telah terkurung selimut kabut yang mencipta gigil. Gunung batu tempat kami duduk terasa semakin dingin dan basah. Aroma hujan di pagi hari menguar dari kejauhan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah warna putih.  Bersih. Sunyi. Kosong…

sk 6

Di balik halimun

“Sudah sampai mana?” bunyi pesan pendek yang muncul di layar ponsel butut saya. Seolah ada nada bosan yang larut bersama pesan yang sudah dikirim berulang-ulang. “Sudah di jalan,” jawab saya. Ya, kendaraan kami memang sudah melaju di jalan. Tapi bukan Jalan Wonosari seperti yang diharapkan si pengirim pesan, melainkan masih di jalanan Kota Magelang yang berjarak sekitar 70 km dari meeting point.

Mobil yang kami kendarai melaju kencang, membelah jalan Jogja Magelang yang dingin dan basah serta lengang. Sisa-sia air yang tergenang di jalanan menciptakan warna-warni indah saat tertimpa cahaya lampu. Sesaat saya terjebak dalam melankolia dan romantisme sederhana.

Setelah mengambil beberapa barang yang ada di Jogja dan menjemput beberapa orang kawan yang turut bergabung, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gunungkidul. Saya lirik jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Fiuh, semoga dua kawan yang sudah menanti dari tadi tak mati bosan terkubur sepi.

——–

Gunung Api Purba Nglanggeran. Begitu nama resmi yang tertera di papan petunjuk arah. Terletak sekitar  25 km dari pusat kota Jogja, atau sekitar 30 hingga 45 menit perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Jangan bayangkan sebuah gunung berhutan lebat dengan tinggi ribuan meter di atas permukaan laut. Gunung Nglanggeran “hanyalah” gugusan bukit batu raksasa yang dulunya merupakan puncak sebuah gunung api.

Tinggi Gunung Nglanggeran hanya kisaran 700 mdpl. Namun panorama yang disuguhkan tempat ini cukup memanjakan mata. Rutenya juga lumayan asyik. Mulai dari anak tangga yang sudah disemen, jalan tanah, lorong sempit menanjak di antara bukit batu besar, hingga mendaki tebing batu untuk mencicipi puncak. Tak jauh dari gunung ini juga terdapat Embung Nglanggeran yang tak kalah cantik.

Seperti Gie yang selalu memilih Mandalawangi untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuk Jakarta, saya pun kerap menjadikan Nglanggeran sebagai tempat persembunyian dan pelarian dari segala kebosanan yang mengejar. Tak hanya itu, saya dan Ika Maria juga sama-sama pernah menjadikan Nglanggeran sebagai tempat perayaan pergantian usia.

Lebih dari hitungan jari saya mengunjungi tempat ini. Mendaki siang hari, jelang senja, tengah malam, hingga dini hari. Banyak kisah yang terangkai di sini. Bahkan bagi Komunitas Canting, Gunung Nglanggeran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan panjang komunitas. Di tempat ini kami pernah mengadakan acara buka bersama sembari camping ceria, merayakan ulang tahun ke 2, hingga menanam beberapa pohon yang kini semakin tinggi.

——-

Dulu, tatkala pimpinan saya di pabrik kata-kata menugaskan untuk meliput tempat-tempat wisata di Yogyakarta yang belum begitu populer, saya langsung memasukkan Gunung Nglanggeran dalam daftar. Itu pula yang terjadi kala sahabat saya Mas Gugun7 meminta pendapat soal 7 tempat asyik di Jogja. Salah satu jawaban saya adalah Nglanggeran. Jawaban itulah yang menjadi alasan kami untuk berada di basecamp Nglanggeran malam ini.

Tepat pukul 11 malam, kami berdelapan mulai mendaki gunung api purba ini. Yula sebagai leader, saya di belakangnya, Mbak Ade, Mas Heru, dua teman Mas Heru, Paman Dori, dan yang terakhir Mas Gugun7. Meski hanya menginap semalam, bawaan kami lumayan banyak. Sebab selain membawa perlengkapan camping kami juga membawa perlengkapan syuting Mas Gugun.

Ini bukan kali pertama saya naik Nglanggeran di malam hari sambil memanggul carrier. Tapi ini pertama kalinya saya naik malam hari kala udara basah dengan jalanan yang sangat becek sisa hujan serta menggendong carrier penuh muatan dan tangan menenteng reflektor. Biasanya carrier saya hanya berisi makanan, selimut tebal, serta bantal jadi terasa enteng (iya, kalo naik Nglanggeran saya sering bawa selimut & bantal haha).

Malam ini keril saya berisi 3 sleeping bag, aneka rupa makanan, mantel, pakaian ganti, serta beberapa liter air mineral. Beban yang lumayan berat bagi pundak yang terbiasa manja. Sebenarnya saya ingin berbagi beban. Tapi saat melirik bawaan Yula, Paman Dori, dan Mas Gugun7 yang jauh lebih berat saya mengurungkan niat.

Perjalanan malam ini berlangsung dalam diam. Tidak banyak celotehan seperti saat mendaki bersama anak-anak Canting. Maklum, cuaca sedang tidak bergitu bersahabat. Energi untuk bercanda kami alihkan untuk menjaga langkah supaya tidak terpeleset di jalan yang licin dan becek. Pelan namun pasti, kami terus mengayunkan langkah. Setelah Song Gudel jalanan mulai sedikit sulit. Kami harus berpegangan tali supaya bisa naik bebatuan.

Tak berapa lama, kami akhirnya tiba di Lorong Sumpitan yang menjadi trek primadona Gunung Nglanggeran. Trek ini berupa  jalan terjal berundak dengan lebar tak lebih dari satu meter. Kanan kirinya berupa tebing batu yang tingggi. Di salah satu titik terdapat batu besar yang terjepit  di antara celah bebatuan. Kalau sudah nonton film 127 hours, konon mirip dengan setting tempat Aron Ralston terjepit batu.

Saat naik dengan kawan-kawan yang bertubuh tambun, biasanya saya akan mengejek mereka “Awas, badanmu nyangkut!”. Ya, karena bagi mereka yang punya badan besar trek ini tidak mengenakkan untuk dilalui. Malam itu Yula memutuskan untuk menghindari Lorong Sumpitan dan mendaki tebing batu sebelah kiri. Dalam kondisi biasa (masih terang, tidak hujan, dan tidak membawa beban), saya pernah lewat tebing itu. Tapi kali ini tidak.

Saya sempat mengkawatirkan Yula yang mulai merangkak menaiki tebing batu. Batu yang licin dan beban berat di punggung bukan perpaduan yang bagus. Namun rupanya kemampuan dia tak perlu diragukan. Dengan terampil dia bisa naik ke atas dan memberi penerangan dari atas untuk kami yang mulai memasuki Lorong Sumpitan.

Sebagai orang pertama gerak saya cukup lamban. Carrier yang tinggi dan besar lumayan merepotkan, sebab sempat membuat tersangkut beberapa kali. Belum lagi reflektor yang ada di tangan kiri, membuat tangan saya tidak bisa meraih kayu yang menjadi anak tangga. Tiba-tiba saya ingat Ika Maria. 2 tahun lalu, dia pernah mendaki Lorong Sumpitan dengan kondisi tangan kanan digips seusai tabrakan. Dan dia bisa sampai di atas dengan cengar cengir. Ika yang sakit saja bisa masak saya tidak? Hup, hup, hup, Dengan mengandalkan satu tangan untuk berpegangan, saya pun akhirnya bisa melewati lorong itu. Fiuuuh.

Satu persatu kawan akhirnya sampai di atas. Setelah sebentar menghela napas, kami melanjutkan langkah. Rupanya trek asoy lainnya menyambut. Jalan tanah naik yang kini berubah licin dan berlumpur harus kami lewati. Kami harus berpegangan pada tali supaya tidak tergelincir. Huh! Sepertinya malam ini Nglanggeran benar-benar tampil dalam wujud yang tidak saya kenal. Jika biasanya bisa naik sambil haha hihi, kali ini cukup menguras peluh. Untung saja saya belum mengucapkan keluh.

Salah satu hal yang paling saya sukai dari naik Nglanggeran adalah bisa melihat kerlip lampu kota Jogja dari kejauhan dan bintang yang bertaburan. Malam itu jelas tak ada bintang, tapi masih ada lampu kota. Sempat berhenti di beberapa kali di gardu pandang yang dibangun pengelola, kami pun melanjutkan perjalanan. Tubuh sudah terasa lelah, kami ingin segera merebah.

Jelang pukul 12 malam, kami sudah hampir mencapai camping ground di dekat Puncak Gede. Bersamaan dengan itu rinai hujan pun mulai turun. Kami mempercepat langkah. Namun rupanya masih ada 1 trek berupa tanjakan yang sangat licin. Disitu tidak ada tali untuk berpegangan. Yula yang menjadi leader sudah mencoba berkali-kali untuk melewati jalan itu namun selalu gagal. Bahkan di percobaannya yang terakhir dia tergelincir jatuh.

Sial. Kata saya dalam hati. Ini rintik hujan semakin besar dan kami masih tertahan disini. Akhirnya saya pun mencoba untuk naik. Sandal gunung yang saya pakai sudah tidak kuat mencengkeram tanah basah. Berkali-kali saya coba, berkali-kali melorot. Akhirnya saya memilih untuk berpegangan pada batu yang sudah sangat licin. Reflektor saya taruh di batu tersebut. Pun dengan carrier yang memberati. Mas Gugun membuatkan pijakan dari sepatunya. Hup. Akhirnya saya pun bisa naik dan menarik kawan-kawan lain.

Lepas pukul 12 malam kami tiba di camping ground dan langsung mendirikan 3 tenda. Rencana camping ceria sambil masak-masak pun buyar sudah. Kami memilih untuk bergegas masuk ke tenda dan bergelung di balik sleeping bag sambil mendengarkan suara hujan yang mulai membesar. Sesaat sebelum lelap saya melantunkan doa “semoga besok cuaca cerah dan bisa melihat sunrise”.

—–

Dering alarm membangunkan saya yang baru saja lelap. Rupanya sudah pukul 05.00. Dari dalam tenda saya pun berteriak memanggil Mas Gugun7 yang masih tidur bersama Paman Dori di tenda sebelah. Kemarin dia bilang ingin bangun pagi untuk mengambil foto timelapse sunrise. Sekitar pukul 05.30 saya memaksa diri untuk keluar dari sleeping bag yang nyaman dan bergegas menuju Puncak Gede.

Bersama Mbak Ade, Mas Heru, dan dua teman Mas Heru kami berjalan menuju puncak, termasuk naik anak tangga kayu yang sangat licin. Sesampainya di atas saya langsung menggelar matras dan berbaring lagi. Sepertinya tak ada mentari pagi ini. Meski Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Sumbing terlihat dengan jelas, namun sisi timur tempat matahari terbit dipenuhi kabut dan awan.

Ini sudah kali ke banyak saya menikmati sunrise di Nglanggeran. Namun belum satu pun saya berhasil mendapatkan rona pagi yang sempurna. Selalu tak ada mentari. Termasuk pagi ini. Sambil menunggu Mas Gugun dan Mbak Ade bekerja (iya, tujuan mereka ke Nglanggeran memang untuk syuting Traveloegue), saya merebahkan badan di atas matras.

Tiba-tiba saya ingat Soe Hok Gie. Dulu dia kerap meninggalkan Jakarta yang ramai lantas menyusuri hutan-hutan basah Gede Pangrango dan menghabiskan waktu di pojokan Mandalawangi. Sambil ngemil coklat dan menatap hamparan edelweis dia akan menulis puisi, surat cinta, maupun catatan harian yang mengungkapkan kegelisahannya. Mungkin Mandalawangi adalah tempat yang benar-benar mengerti akan dirinya. Tempat yang sunyi, sesunyi jalan hidup yang Gie pilih.

Ketika sedang asyik berbaring, ngemil Chacha peanut, dan membayangkan Gie, mendadak ada lapisan putih yang bergerak sangat cepat. Dalam hitungan detik lapisan putih serupa asap pekat telah melingkupi Puncak Nglanggeran, membuat jarak pandang terbatas dan menciptakan gigil.

Sesaat menciptakan kepanikan dan takut. Namun sesaat, kemudian berubah takjub. Mbak Ade sempat berteriak senang “Aku baru pertama merasakan ini,” katanya. Sedangkan Mas gugun7 berujar bahwa ini seperti Negeri Sun Gokong. Saya tersenyum simpul. Ini kali kedua saya berjumpa dengannya, Selimut Kabut Puncak Gede.

sk 3

Kabut di kejauhan, serupa kue lapis

sk 4

Puncak Merapi terlihat dari sini

sk 2

Halimun bergulung dengan cepat

sk 5

Mereka bekerja. Saya? Tidur saja.

sk 1

Hai!

Ah, lagi-lagi saya teringat Gie. Gie, apakah kau pernah bertemu dengan selimut kabut seperti ini? Jika sudah bagaimana perasaanmu kala itu? Apakah kau merasa seperti yang kurasakan? Sepi, dingin, sunyi, gigil, kosong. Ya, kosong. Mendadak saya merasa begitu kosong dan tenang. Ketakutan itu telah berubah menjadi kekuatan.

Nglanggeran, 15-16 Januari 2014

Piknik Asyik Bareng Traveloegue

Heyho, apakabar para pembaca blog ranselhitam yang budiman? Semoga tetap sehat dan semangat serta cihuy yak #halah hehe. Saya mau cerita nih, jadi kan awal tahun kemarin saya bikin janji sama diri sendiri kalau mulai tahun 2014, setiap bulan minimal ada 8 postingan baru di blog kece ini. Itu berarti tiap minggu ada 2 tulisan. Tapi apa daya, rupanya banyak hal yang membuat aktivitas ngeblog kadang terpinggirkan #macaksibuk.

Seminggu kemarin saya bolos ngeblog. Tau alasannya kenapa? Yang tau nggak usah bilang #eh hahaha. Jadiiii, seminggu kemarin saya bantuin temen dari sebuah forum jalan-jalan yang baru aja lahir bernama Traveloegue. Ceritanya mereka lagi bikin video perjalanan di Jogja. Saya yang sok-sokan paham Jogja pun diajakin gabung buat ngerecokin bantu-bantu.

Selama 6 hari kita keliling-keliling dari utara hingga selatan, dari barat sampai timur. Naik gunung, main di pantai, keliling candi, muter-muter pasar, sampai turun ke Gua Jomblang. Iya GUA JOMBLANG yang cihuy abis itu. Yang ceritanya pernah saya tulis di sini dan di sana, serta fotonya jadi header blog ini.

Saya nggak mau cerita banyak soal jalan-jalan kemarin. Yang jelas sangat fun. Bagi saya mencoba pengalaman baru dan bertemu orang-orang asing itu selalu menyenangkan serta membuat saya merasa kaya. Perjalanan seminggu keliling Jogja kemarin membuat saya belajar banyak hal. Penasaran seperti apa jalan-jalannya? Nih saya bagi foto-fotonya aja. Cerita fullnya ditunggu di postingan selanjutnya ya hehe.

941532_10202932612617897_1668290014_n

Jerawatnya ih :(

1

Berkejaran dengan kabut

3

Ada yang tau ini di mana?

4

Akhirnya menjejak di tempat ini lagi

2

Please welcome our cameraman, Mr Bakri haha

IMG_8217

Si merah ikutan mejeng

1010482_10202932622818152_723674174_n

Full team

P.S. Betewe selama mengikuti proses pembuatan video ini kok saya jadi kangen teman-teman lama di pabrik kata-kata tempat saya mburuh dulu. Jadi kangen saat liputan sambil gila-gilaan bareng mereka. Semoga kalian semua baik-baik saja dan terus berbahagia ya!

Ngesot Jaya di Gunung Andong

Hosh hosh hosh. Nafas saya tersengal-sengal dan dada saya sesak. Seperti ada berkilo-kilo beban yang menghimpit paru-paru sehingga membuat saya sulit bernafas. Kepala terasa sedikit pening. Tapi saya tidak boleh menyerah begitu saja. Saya harus terus berjalan hingga mencapai puncak. Harus! Meski kaki terasa berat dan langkah semakin melambat.

IMG_7839

Gunung Andong yang seperti punuk onta

Saya ambil botol minum yang baru diisi dengan air pancuran di badan jalan. Glek glek glek. Kesegaran air yang diambil dari sumbernya langsung membasahi tenggorokan. Membuat saya sedikit lebih kuat. Sepertinya air pancuran itu memiliki khasiat. Ah, atau jangan-jangan itu hanya perasaan saya saja ya? Bukankah dalam kondisi terpuruk biasanya kita membutuhkan sesuatu yang kita anggap bisa menjadi obat atau pelipur?

Saya kembali melangkah pelan dan hati-hati. Tangan kiri bertumpu pada tongkat biru yang sudah piknik hingga Lembah Baliem milik Mas Danang. Sedangkan tangan kanan meraba-raba tumbuhan yang merambati dinding tebing. Jika sembrono melangkah bisa jadi saya terjatuh ke sisi kiri jalan berupa jurang dengan kemiringan 60 – 80 derajat.

Jalan setapak berdebu nan terjal itu terus saja meliuk-liuk di punggung gunung. Tiap saya menuntaskan satu tanjakan dan bertemu kelokan, langsung dihadang tanjakan berikutnya. Jalan zigzag ini seolah tanpa ujung. Saya lelah. Mentari pun seolah tak mau kompromi. Dia bersinar dengan terik, sangat terik.

“Ayo semangat, satu tanjakan dan satu tikungan lagi langsung datar dan ketemu puncak!” kata Mas Danang menyemangati. “Huh! Dari tadi bilangnya satu tanjakan lagi, tapi nggak sampai-sampai juga,” rutuk saya dalam hati. Saya melangkah dengan tertatih. Hampir tiap lima menit berhenti. Di salah satu tikungan saya memutuskan untuk ndoprok. Hosh hosh hosh ngiiik. Hosh hosh hosh ngiiiik.

_MG_5707_resize

Ndoprok jaya di salah satu kelokan

“Sudah mas, tinggal aja. Saya mau istirahat dulu. Hosh hosh hosh…” kata saya pada Mas Danang yang menjadi teman seperjalanan saya siang itu. Dia menatap saya dengan wajah kasihan bercampur geli. Mungkin karena terlalu capek dan ngantuk menemani saya yang berjalan seperti siput, dia pun akhirnya melangkah meninggalkan saya dan Mbak Rina.

“Terus aja mas, saya mau pipis dulu!” teriak saya dari bawah saat melihat dia yang akhirnya berhenti di kelokan selanjutnya, memastikan apakah saya baik-baik saja atau tidak. Begitu mendengar kalimat terakhir, dia pun lantas mempercepat langkah dan tidak menengok lagi.

****

Bukan tanpa alasan jika pada Senin siang yang mendung saya meninggalkan Jogja menuju Solo dan melanjutkan perjalanan ke Salatiga bersama Mbak Rina. Kami berdua yang tergabung dalam kelompok pemuda pemudi karang yo selo memutuskan untuk melancong menuju Kota Garnisun yang terletak di pinggang Merbabu itu.

Semua gara-gara si penebar racun, Mas Dhave Danang. Ya, kawan saya satu itu sering menebar racun dengan pamer foto-foto Gunung Andong yang oke punya. Ditambah kata-kata manis “Gunung pendek dengan pemandangan indah yang bisa didaki dengan mudah bahkan oleh pemula,” tentu saja membuat pertahanan iman saya goyah.

Saya yang merasa sok keren dan tangguh pun meminta Mas Danang untuk menemani naik ke Andong. Hingga hari yang ditentukan tiba, saya sama sekali tidak pernah latihan fisik. Padahal bulan-bulan terakhir aktivitas saya tidaklah banyak, saya jarang jalan kaki, tidak pernah berolahraga, dan jarang melakukan kegiatan outdoor yang menguras energi. Aktivitas berat saya pol mentok liputan di pantai atau jingkrak-jingkrak nonton konser hingga 4 jam.

Entah kenapa saya menjadi begitu sombong dan percaya diri bahwa saya bisa “menaklukkan” Gunung Andong dengan mudah. Mungkin gara-gara saya pernah mendadak diajak naik Merapi tanpa persiapan fisik dan akhirnya bisa sampai. Dan itu kesalahan pertama saya. Rupanya Tuhan tidak suka dengan orang yang sombong dan sok kepedean haha. Saya juga lupa, bahwa yang bilang “Trek Gunung Andong itu mudah buat pemula” adalah Mas Danang yang hobinya emang lari-lari dari gunung ke gunung. Mudah buat dia belum tentu mudah buat saya kan?

IMG_7864

Gigir gunung yang bikin jiper

Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya yang saya mulai dengan riset kecil-kecilan, untuk perjalanan kali ini saya benar-benar buta. Saya pasrah sepenuhnya pada Mas Danang. Dan inilah kesalahan kedua. Jika saja saya mau mencari informasi tentang lokasi Gunung Andong lebih dulu, seharusnya saya bisa saja berangkat hari Selasa dari Jogja. Saya tidak perlu jauh-jauh ke Solo lantas ke Salatiga, melainkan bisa langsung naik bis dari Jogja menuju Muntilan lantas ganti angkot menuju Ngablak. Perjalanan yang jauh lebih singkat dan tentu saja irit. Tapi berhubung saya buta, makanya saya pergi ke Salatiga. Padahal lokasi Gunung Andong masuk Kabupaten Magelang #fiuuuuh.

Kesalahan ketiga, saya sama sekali tidak membawa logistik selain sebotol air putih. Bahkan permen pun tidak. Mas Danang yang tau hal tersebut lantas menyodorkan sebotol air mineral kemasan untuk berjaga-jaga. Entah kenapa saya menjadi begitu sembrono. Padahal biasanya saya menjadi orang dengan persiapan paling lengkap (logistik, baju ganti, hingga obat-obatan) saat hendak pergi kemana pun. Kesalahan demi kesalahan yang menumpuk akhirnya membawa saya menuju perjalanan pendakian yang tak pernah terlupakan.

*****

Menginap semalam di tempat adik sepupu, pagi-pagi sekitar pukul 07.00 WIB saya dan Mbak Rina meluncur ke kos Mas Danang. Jelang pukul 08.00 WIB, kawan-kawan Mas Danang yang akan bergabung sudah datang. Kami pun lantas memulai petualangan hari itu.

Sepanjang jalan menuju Pasar Ngablak sebagai titik mula pendakian, mata saya sudah dimanja dengan pemandangan yang elok. Sebagai bocah yang lahir dan besar di daerah pegunungan, saya tak pernah bosan memandangi puncak-puncak gunung tinggi serta merasakan denyut kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Pemandangan dataran tinggi selalu mampu membuat saya terpesona. Terlihat begitu tenang dan damai.

Di depan saya Gunung Merbabu tampak begitu besar dan gagah dengan Merapi di baliknya. Di sisi lain ada Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, Gunung Gajah Mungkur, bahkan puncak Sindoro Sumbing juga terlihat. Kepala saya sampai pegal karena sibuk tengok kanan kiri melihat gunung gemunung yang berderet-deret. Ladang sayuran menyebar dari kaki hingga pinggang gunung, berpadu dengan deretan pinus dan pohon-pohon lain.

_MG_5676_resize

Sarapan ala pejalan, bisa dimanapun

Sesampainya di Pasar Ngablak, kami pun turun dan membeli sarapan berupa nasi jagung lengkap dengan peyek ikan, urap, godogan kubis dan daun adas. Berbekal energi yang berasal dari iwak peyek sego jagung minus goyangan, kami pun mulai melangkah meninggalkan Pasar Ngablak menuju Dusun Sawit yang terletak tepat di kaki Gunung Andong. Tentu saja setelah sebelumnya membalurkan sunblock ke wajah dan tangan. Awalnya sih saya malas, tapi gara-gara Mas Danang bilang bahwa kulit bisa kebakar kalo tetap nekat tidak memakai sunblock akhirnya saya dan Mbak Rina manut.

Gunung Andong berdiri dengan gagah di tengah gugusan gunung-gemunung yang terlihat dari Ngablak. Tubuhnya terlihat mungil dibandingkan dengan gunung-gemundung di sekitarnya. Bahkan jika dibandingkan dengan saudaranya, Gunung Telomoyo yang puncaknya menjadi ladang tower, dia tetap terlihat lebih kecil. Tapi siapa sangka justru si kecil itulah yang mampu membuat saya hampir menyerah di tengah pendakian.

*****

“Atur nafas sesuai dengan ritme langkah,” saran Mas Danang saat melihat saya mulai kepayahan mendaki. “Selangkah tarik nafas, selangkah hembuskan. Ambil nafasnya bareng dengan kaki yang paling kuat, kaki yang biasa menjadi tumpuan,” lanjutnya sambil memberikan contoh.

Aha, inilah enaknya naik gunung dengan pendaki beneran, saya jadi diajari hal-hal baru seperti ini. Saya pun mempraktekkan langsung teori yang baru saya dapat. Ternyata benar, nafas saya menjadi sedikit lega. Ritme langkah saya juga mulai teratur. “Yang penting konsisten. Jangan terlalu cepat, jangan terlalu lambat,” imbuhnya.

Ini adalah pendakian siang pertama saya. Dan jujur saya merasa kepayahan. Selama ini tiap mendaki gunung atau bukit tinggi saya selalu melakukannya sore menjelang gelap, subuh, atau bahkan malam sekalian. Bahkan naik Gunung Nglanggeran pun selalu sore. Saya baru sekali naik Nglanggeran siang hari, itu pun karena terpaksa.

Menurut saya mendaki malam itu ada banyak keuntungan. Yang pertama jelas tidak panas, yang kedua jarak pandang saya terbatas sehingga saya tidak tahu kondisi trek yang saya lalui. Hal ini menjadikan saya tidak jiper duluan. Tapi semua pendapat saya disanggah oleh Mas Danang.

Manusia bukan mahluk nocturnal, sehingga malam itu harusnya untuk istirahat bukan untuk berjalan. Sedangkan masalah trek, justru jalan malam itu membahayakan karena kita tidak bisa melihat kondisi jalan yang sesungguhnya. Selain itu jalan malam akan sangat menguras energi. Ketika jalan siang energi tidak begitu terkuras, yang cepat habis adalah cairan tubuh. Ouch… Satu fakta lagi soal mendaki gunung. Sepertinya saya memang harus belajar banyak darinya.

“Lagian apa enaknya jalan malam? Kita nggak bisa melihat pemandangan. Kalau jalan siang kan saat kita capek dan istirahat kita bisa lihat pemandangan indah kayak gini,” tandasnya sembari memotret landskap indah yang terlihat dari ketinggian. Untuk yang terakhir ini saya mengamini.

_MG_5730_resize

Sampai juga di puncak yeiy!

IMG_7860

Turu-turu sek Jon!

Akhirnya, setelah dua jam pendakian bertabur peluh dan keluh, saya pun berhasil menapakkan kaki di puncak Gunung Andong dengan ketinggian 1780 mdpl. Saya yang tadinya hampir menyerah di tengah jalan begitu sampai puncak langsung terduduk di rerumputan. Wajah memerah bersimbah peluh yang mirip kepiting rebus langsung tersenyum lebar, bahkan tertawa mengingat semua keluhan konyol yang sempat saya utarakan. Ya, berada di ketinggian selalu menjadi obat yang ampuh untuk apapun. Saya bisa melihat dunia yang begitu luasnya dan kembali disadarkan bahwa saya ini bukanlah sesiapa di tengah semesta raya.

Saat energi sudah kembali pulih, kami pun bergegas mengemasi ransel dan bergerak untuk turun dengan rute yang berbeda. Dan ternyata jalan turun tak kalah menyiksanya. Gigir gunung dengan jalan setapak dan jurang dikanan kirinya membuat saya terpaksa ngesot, alias berjalan menggunakan pantat. Ngeri, Jon! Hahahaha.

_MG_5764_resize

Ngesot, Joooon!

_MG_5798_resize

Full team

_MG_5808_resize

Menunduk kala naik, tegak kala turun!

p.s. foto yang cihuy ini semuanya milik mas Danang

Bertemu Cinta Pertama di Batu Mentas

Orang-orang memanggilnya Dita. Satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan sehingga menjadi kesayangan. Saya pun penasaran untuk bertemu langsung dengannya. Ditemani seorang kawan, saya berjalan menuju tempat tinggalnya yang tak jauh dari tepi sungai kecil yang mengalir membelah kaki Gunung Tajam.

Begitu berjumpa, dia tak mengeluarkan suara. Bola matanya menatap saya lekat-lekat. Melotot tajam. Saya mencoba tersenyum menyapa. Tapi dia tetap bergeming, tak berkedip. Tak ada senyum sedikitpun. Kedua tangan mungilnya memeluk dahan pohon erat-erat. Seolah tak ingin terpisah. Sepintas dia mirip boneka mungil yang tak bernyawa.

Saya maklum. Saya memang salah. Seharusnya saya membiarkan dia beristirahat dengan tenang di siang hari. Tapi saya justru datang mengganggu dan menjadikannya sebagai objek fotografi. “Kalau siang hari dia memang seperti itu. Tapi kalau malam dia akan melompat dari satu dahan ke dahan lainnya dengan lincah. Karena itu kami buat kandang yang tinggi supaya dia tidak bisa keluar,” terang Bang Ari.

tarsius batu mentas

Tarsius Bancanus Saltataor

Itulah perkenalan singkat saya dengan Dita, sekaligus perkenalan pertama dengan hewan yang tubuhnya hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa, Tarsius. Meski singkat, saya telah jatuh cinta. Perkenalan itu sangat berkesan sehingga membuat saya memutuskan untuk mengunjunginya lagi, 9 bulan kemudian.

***

Malam itu tubuh saya benar-benar lelah. Setelah sehari sebelumnya menyeberang dari Bangka menuju Belitung dan sehari sesudahnya dihabiskan dengan snorkeling di Pulau Kepayang, yang saya inginkan hanyalah tidur panjang tanpa gangguan.

Tapi keinginan tinggal keinginan. Sekitar pukul 22.30 WIB, Bang Ade, Bang Eko, dan Hafizh mengetuk pintu kantor BelAdvent tempat saya menginap. Rupanya mereka hendak meluncur ke Batu Mentas. Wohooo, mendengar kata Batu Mentas saya pun langsung bangun dan memilih bergabung bersama mereka. Mau tau alasannya? Dita tinggal di Batu Mentas.

Exif_JPEG_PICTURE

Tempat penangkaran Tarsius

Dalam pekat malam, saya membonceng Bang Eko membelah jalan utama Pulau Belitong yang sangat sepi. Sedangkan Bang Ade mengendarai jeep tuanya bersama Havizh dan Totos. Jalanan sangat sunyi, hanya ada satu dua kendaraan yang berpapasan. Orang-orang tidak ada yang terlihat di luar rumah. Pintu-pintu sepertinya terkunci.

“Kemarin ada yang mati gantung diri di rumah itu,” kata Bang Eko sambil menunjukkan sebuah rumah kosong di kanan jalan yang dilingkari garis Polisi. Sial, bulu kuduk saya meremang seketika. Pantas, kemarin di pelabuhan saya dengar orang-orang berbincang soal itu. Saya pun meminta Bang Eko untuk menggeber motornya lebih kencang.

Jalang pukul 23.00 kami memasuki daerah Badau, kemudian motor belok kiri melewati jalan yang membelah ladang dan hutan menuju arah Batu Mentas. Terletak di kaki Gunung Tajam, kawasan Batu Mentas kini dikembangkan menjadi taman wisata sekaligus sanctuary bagi hewan endemik Bangka Belitung, Tarsius bancanus saltator.

Sebelum saya datang ke Belitung pada pertengahan tahun 2012, setahu saya primata terkecil di dunia tersebut hanya ada di Bitung, Sulawesi Utara. Namun setelah bertemu kawan-kawan Komunitas Pecinta Lingkungan Belitung (KPLB), saya jadi tahu bahwa Tarsius juga ada di Belitung. Bahkan sejak pemekaran provinsi, Tarsius bancanus saltataor yang dalam bahasa lokal dikenal dengan nama Pelilean atau Mentilin ini dijadikan fauna identitas Provinsi Bangka Belitung.

Gunung Tajam adalah habitat hewan endemik yang sangat setia ini. Bagaimana tidak setia? Seumur hidupnya tarsius hanya memiliki satu pasangan. Jika kelak pasangannya mati maka tarsius tidak akan mencari pasangan pengganti. Dia akan tetap sendiri hingga menyusul mati pasangannya.

***

Tak berapa lama kami sampai di Batu Mentas. Suasana gelap total, genset sudah dipadamkan sedari tadi. Bayangan pohon terlihat bergoyang tertiup angin. Angin berdesir menggesek dedaunan. Gemericik air sungai yang mengalir berpadu dengan derik serangga hutan. Saya benar-benar menikmati suasana malam di hutan ini.

Tetapi suasana itu tidak bertahan lama, suara jeep Bang Ade terdengar meraung di belakang dan lampunya menyorot pepohonan. Mendadak saya teringat film-film horor dimana ada mobil dengan lampu menyala di tengah hutan, sinarnya lampunya membias ke segala penjuru. Dahan-dahan pohon pun menyala dalam gelap dan bayangannya terlihat memanjang. Mistis namun penuh magi.

Mengetahui kedatangan kami, penjaga Batu Mentas lantas menyalakan genset. Kami pun segera memindahkan barang-barang dari mobil ke aula terbuka yang terletak tepat di tepi sungai. Malam yang semula sepi berubah menjadi ramai. Orang-orang di Batu Mentas semua bangun dan bergabung dalam perbincangan yang penuh tawa.

Lelah berbincang saya memilih merebahkan badan di sofa buluk sambil berselimutkan sleeping bag. Orang-orang masih terus ngobrol dan bernyanyi hingga dini hari. Suara merdu Hafizh dan gemericik sungai benar-benar menjadi lulaby. Saya lupa, bahwa tujuan utama saya ke Batu Mentas adalah untuk menjenguk Dita dan melihatnya kala malam.

***

Keesokan harinya, saya bangun dengan kepala yang sedikit berat. Sesaat saya lupa sedang berada di mana. Begitu melirik ke sebelah kiri dan mendapati ada sungai jernih yang mengalir saya pun langsung ingat bahwa saya sedang di Batu Mentas.

Bergegas saya bangkit dari sofa, melipat sleeping bag, lantas berjalan meninggalkan aula. Udara pagi itu sangat segar. Saya menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Saya biarkan berton-ton udara bersih menyegarkan paru-paru dan menghilangkan pening kepala. Cuitan burung menyambut pagi. Tak ada deru motor, tak ada bising kendaraan, tak ada teriakan gaduh, andai tiap pagi bisa sedamai ini.

Saya berjalan pelan, berusaha mereguk tiap detik waktu sebaik-baiknya. Srek, srek, srek. Suara sapu lidi yang beradu dengan tanah dan tumpukan dedaunan terdengar di kejauhan. Rupanya bocah-bocah yang sedang PKL di Batu Mentas sudah bangun lebih dulu dan melakukan aktivitasnya.

Exif_JPEG_PICTURE

Sungai berair jernih yang membelah Batu Mentas

Sebenarnya saya ingin bergegas menuju tempat penangkaran tarsius. Tapi jernihnya air sungai yang bersumber dari puncak Gunung Tajam terdengar memanggil-manggil untuk dihampiri. Saya pun memilih untuk menuruni tepian sungai, mencelupkan kaki ke air yang dingin, dan mengambil air dengan tangan untuk membasuh wajah. Segaaaaar.

Usai bermain di sungai, saya beranjak menuju dapur beratap rumbia. Mak Roh terlihat sedang memasak dan orang-orang yang tadi masih tidur sudah bangun sambil memegang gelas kopi masing-masing. “Ngopi-ngopi dulu sini,” kata Bang Eko sambil mengangkat gelas kopinya yang mengeluarkan aroma harum. Saya menggeleng.

“Saya pengen lihat Dita,” kata saya. Bang Ade yang sedang meminum kopinya mendadak menatap saya, lantas berujar “Oh lupa bilang, Dita sudah almarhum. Sekarang sebagai gantinya ada Benji. Cowok. Tapi dia lebih fotogenic kok,” katanya menjelaskan.

Mendengar kabar tersebut mendadak saya merasa sedih. Rupanya kedatangan saya untuk menemui Dita sia-sia. Beberapa waktu lalu Dita sempat stress dan berakhir tidak mau makan, kemudian meninggal.

Ya, hewan yang bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat itu memang mudah stress. Oleh karena itu tarsius termasuk satwa yang sulit ditangkarkan. “Ini yang menjadi tantangan kita dalam penangkaran tarsius, hewan nocturnal itu mudah stress” kata Bang Ade.

Mendadak saya ingat perbincangan dengan Bang Budi tahun sebelumnya. Salah satu alasan didirikannya Taman Wisata Batu Mentas adalah untuk melindungi habitat hewan tersebut dari pembalakan liar yang marak terjadi. Selain itu juga untuk melindungi populasi tarsius sendiri.

dita 5

Mengitari Batu Mentas dengan Bang Budi

Menurut Bang Budi, dulu tarsius dianggap sebagai hewan pembawa sial. Jika orang bertemu hewan tersebut di dalam hutan maka itu dipercayai sebagau pertanda buruk. Karena itu tiap bertemu tarsius pasti akan dibunuh. Setelah melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat bahwa tarsius adalah hewan yang dilindungi serta mitos tersebut salam, kini tarsius tidak lagi diburu.

“Penangkaran ini bertujuan untuk mengenalkan tarsius kepada pengunjung. Kalau tidak ada yang ditangkarkan atau dikandangkan, pengunjung Batu Mentas akan sulit menemukannya karena tarsius kalau siang hari ngumpet. Tapi ya kita sadar resikonya, yaitu tarsius mudah stress dan bisa mati. Apalagi tarsius betina,” jelas Bang Budi panjang lebar.

Fiuh, entah mengapa mengingat perbincangan itu dan tau fakta bahwa Dita sudah meninggal mendadak saya malas menemui Benji. Saya tidak ingin mengganggu waktu istirahat Benji. Pasti dia sudah capek melompat dan beraktivitas semalaman dan kini butuh beristirahat. Lagipula tujuan utama saya adalah menjenguk Dita, bukan Benji.

dita 1

Hai Dita, how’s heaven?

Pagi itu, di antara sinar mentari yang menelusup melalui celah-celah pepohonan, di antara gemericik air, di antara cuitan burung, di tengah hutan tropis yang sejuk, saya merasakan sedihnya kehilangan cinta pertama.

Kinahrejo, Harmoni Kehidupan di Lereng Merapi

IMG_3182

Harmoni Semesta dan Manusia di Lereng Merapi (foto by Mas Dhave)

Gelap masih melingkupi semesta tatkala rombongan warga mulai berdatangan ke petilasan rumah Almarhum Mbah Maridjan. Jauh di angkasa, temaram kartika masih nampak jelas menghiasi langit yang pekat. Orang-orang yang sudah menginap di Kinahrejo sejak malam sebelumnya perlahan mulai melangkah menuju Srimanganti.

Dinginnya udara lereng Merapi di pagi itu bukanlah penghalang yang berarti. Keinginan mengikuti prosesi Labuhan menjadi alasan yang kuat untuk terus melangkahkan kaki sekitar 1,5 jam hingga tiba di Srimanganti yang merupakan lokasi Labuhan Merapi. Begitu rombongan kirab tiba di lokasi, prosesi Labuhan pun dimulai oleh juru kunci Merapi, Mas Lurah Surakso Sihono yang merupakan putra almarhum Mbah Maridjan.

Dalam kosmologi Jawa, Gunung Merapi dipercayai memiliki hubungan yang sangat erat dengan Laut Selatan (Pantai Prangtritis) dan Keraton Yogyakarta. Jika Pantai Selatan melambangkan air, Gunung Merapi melambangkan api, maka Keraton Yogyakarta menjadi penyeimbangnya. Trio kosmos tersebut memiliki kesakralan tersendiri sehingga tiap tahun selalu digelar ritual di tiga tempat tersebut.

Upacara Labuhan Merapi dilakukan sebagai ajang untuk memohon restu kepada penguasa Gunung Merapi agar melindungi dan memberi keselamatan kepada Keraton Yogyakarta beserta semua penghuninya. Selain itu, Labuhan juga menjadi bukti ikatan yang kuat antara masyarakat lereng Merapi dengan alam tempatnya hidup. Ikatan kuat itu juga ditunjukkan oleh Mbah Maridjan dan puluhan Warga Desa Kinahrejo.

Selasa sore yang kelabu, 26 Oktober 2010. Sinar mentari sudah mulai lindap. Gunung Merapi yang sedang bergolak mulai menunjukkan tanda-tanda bahaya. Mbah Maridjan, juru kunci Merapi kala itu, tak menghiraukan perintah dari pemerintah untuk meninggalkan desanya. Dengan setia, dia tetap bertahan di Kinahrejo untuk “menjaga anaknya” yang sedang marah. Akibatnya, Mbah Maridjan bersama 32 warga Kinahrejo yang memilih bertahan dan tidak mau dievakuasi menjadi korban awan panas atau yang kerap disebut dengan nama wedhus gembel.

Erupsi 2010 yang menjadi erupsi terbesar Merapi dalam 100 tahun terakhir tersebut juga meluluhlantakkan desa-desa di sekitar Lerang Merapi. Kawasan yang dulunya ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi dalam sekejap berubah menjadi lautan material vulkanik. Tanaman hancur, rumah-rumah roboh, hewan ternak mati. Seolah tak ada lagi masa depan yang tersisa.

Namun bukanlah warga kerajaan gunung api jika tak siap menghadapi bencana itu. Harta benda boleh habis, hewan ternak semua mati, bahkan tak jarang banyak kerabat yang meninggal tapi dua hal yang tak boleh hilang, semangat serta harapan. Dengan segala keterbatasan yang ada, warga Kinahrejo dan sekitarnya mulai mengumpulkan puing-puing yang berserakan dan menata hidup yang baru. Tak ada sesuatu yang terlalu hancur untuk dipulihkan. Selalu ada cerah sehabis badai. Selalu ada hikmah di balik tiap musibah.

Dahsyatnya erupsi Merapi 2010 lalu selain menimbulkan dampak yang merusak juga memberi dampak positif. Merapi membanjiri wilayah “kekuasaannya” dengan sumber daya alam yang memutar roda perekonomian masyarakat. Merapi menjadi sandaran bagi masyarakat yang minum dari mata airnya, menambang pasir dan batuannya, memanen dari kesuburan tanahnya, serta menjual pesona keindahan alam dan eksotisme budayanya.

Dulu, sebelum erupsi Merapi 2010, saya hanya mengenal Kinahrejo sebagai desa tempat tinggal Mbah Maridjan dan basecamp teman-teman pecinta alam. Tak jauh dari Kinahrejo terdapat obyek wisata alam Kaliadem dan Bebeng yang terkenal dengan bunker dan watu gajahnya.  Namun kini keadaan telah jauh berubah. Usai erupsi 2010, Desa Kinahrejo yang semula hancur lebur telah bersolek menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Yogyakarta yang tidak hanya didatangi oleh wisatawan lokal, melainkan wisatawan mancanegara. Merapi Volcano Tour menjadi atraksi utama yang ditawarkan.

bebeng

Bebeng, Sebelum dan Sesudah Erupsi 2010

Tanggal 17 Agustus lalu, saya kembali menyambangi Agrowisata Kinahrejo untuk kesekian kalinya. Jika dulu kami mengunjungi Kinahrejo dengan berjalan kaki dari Kaliurang menembus hutan, melewati Watu Kemloso, dan Kalikuning maka kini kami mencapai Kinahrejo dengan mengendarai sepeda motor.

IMG_7119

Perempuan Tangguh Penjual Bunga

Pagi itu areal parkir kendaraan terlihat begitu hidup. Para pedagang sibuk menawarkan barang dagangannya dari lapak masing-masing, mulai dari kaos bertuliskan “Lava Tour Merapi”, foto-foto erupsi, jadah tempe, wedang ronde, bunga edelweis jawa, hingga cobek dan ulekan dari batu vulkanik. Motor trail berderet-deret siap mengangkut wisatawan untuk berkendara menyusuri medan sulit, jeep willys dengan sopir yang mengenakan masker dan helm tempur juga nampak parkir dengan rapi. Beberapa diantaranya sudah dipenuhi penumpang yang hendak melakukan off road.

Mendadak saya teringat pengalaman beberapa waktu lalu saat mengikuti paket Merapi Lava Tour dengan naik jeep willys dari Tlaga Putri Kaliurang. Kala itu saya dan kawan-kawan memilih rute standar alias rute pendek yang melewati Kali Opak – Dusun Tangkisan – Dusun Petung – Batu Alien – Kali Gendol – Kaliadem – Gumuk Petung. Selama perjalanan, kami disuguhi landskap alam yang menarik. Di sisi utara terlihat Merapi yang tegak menjulang dengan tudung kabut, sedangkan di sisi selatan terhampar Kota Yogyakarta dan deretan Pegunungan Sewu.

lava tour

Merapi Volcano Tour dengan Jeep Willys

Petualangan menjadi semakin menarik kala mulai memasuki medan berupa hamparan material vulkanik. Pasir dan debur berterbangan seirama dengan lajunya tancapan gas pengemudi jeep. Untung kami dibekali dengan masker dan helm. Di beberapa tempat jeep berhenti untuk memberi waktu kepada kami yang ingin mengabadikan gambar.

Salah satu pemberhentian yang cukup menyita perhatian adalah Museum Sisa Hartaku. Sesuai dengan namanya, Sisa Hartaku, museum yang bertempat di reruntuhan rumah sisa erupsi itu menampilkan berbagai barang sisa erupsi Merapi seperti kerangka sapi, gelas dan botol yang meleleh, sisa gamelan, serta berbagai perabotan. Selain itu ada juga batu alien yang berukuran sangat besar.

sisa

Museum Sisa Hartaku

Kali ini, saya tak ingin melakukan lava tour dengan naik jeep maupun motor trail. Kami ingin mencoba hal baru, yakni berjalan kaki mengikuti jalan aspal dari tempat parkir ke Kinahrejo, menyeberang lautan pasir, lantas melanjutkan ke Bebeng.

Perlahan, kami mulai menapakkan kaki menyusuri jalanan yang terus menanjak. Sepanjang jalan kami bertemu dengan banyak wisatawan asing yang ingin menikmati keindahan Lereng Merapi. Mereka semua terlihat antusias dan bersemangat. Saya pun tak mau kalah.

IMG_7216

Wisatawan Mancanegara Pun Mengunjungi Kinahrejo

Sesampainya di Kinahrejo, kami berdua disambut dengan ucapan selamat datang yang terpasang di gapura. Dulu, di samping gapura tersebut adalah rumah Mbah Udi (adik Mbah Maridjan) dan sering menjadi tempat nonkrong sahabat saya. Kini rumah tersebut sudah tidak ada, berganti dengan warung yang menjajakan makanan dan aneka cinderamata.

Dari gapura saya melangkah menuju Masjid Al Amin yang dibangun di atas reruntuhan masjid sebelumnya. Di sebelah Masjid Al Amin terdapat Taman Kinahrejo yang sayangnya sudah tidak terurus. Sepintas saya melihat beberapa bunga dahlia yang mekar. Kemudian kami menuju petilasan rumah Mbah Maridjan yang kini dijadikan semacam museum tempat memamerkan beberapa benda sisa erupsi seperti kerangka mobil, motor, dan sisa gamelan. Di tempat tersebut juga terdapat tetenger tempat meninggalnya Mbah Maridjan.

kinah

Kondisi Kinahrejo Saat Ini

Usai mengeksplor daerah tersebut, kami berdua melanjutkan perjalanan menuju lautan pasir Kali Opak. Batu-batu berukuran besar nampak bergelimpangan. Jika langit cerah, dari tempat ini kita bisa menyaksikan puncak Merapi yang kerap mengeluarkan asap. Jarak tempat ini dengan puncak Merapi hanya 4,5 km. Tapi kami termasuk kurang beruntung, siang itu Merapi tertutup mendung kelabu.

Selanjutnya kami hendak melanjutkan perjalanan menuju Bebeng. Sayangnya jurang yang lumayan dalam terbentang di hadapan kami. Seorang kawan asal Australia nekat menuruni jurang itu. Awalnya saya pikir dia datang mengendarai trail sebab sedari tadi dia memegang helm. Rupanya dia berjalan kaki dan berujar bahwa helm itu hendak dipakainya saat melewati medan curam, sehingga jika dia jatuh maka kepalanya akan aman. Saya hanya terkikik geli mendengar penjelasannya.

Berhubung kami tidak senekat kawan yang membawa helm tadi, maka kami memilih untuk berbalik arah. Sebagai penutup dari perjalanan singkat ke Kinahrejo ini kami mampir ke warung salah satu anaknya Mbah Udi dan memesan salah satu kuliner khas Kinahrejo, Wedang Gedang.

Sesaat sebelum pulang, saya sempat melihat tulisan “Kinah Bali Rejo” di petilasan rumah Mbah Maridjan.  Ya, erupsi Merapi memang telah meluluh lantakkan Desa Kinahrejo namun efek samping dari erupsi itu pulalah yang akan kembali menyuburkan tanah Kinahrejo. Kinah akan kembali rejo alias makmur seperti sediakala. Kuncinya adalah pada semangat dan harapan untuk terus membangun desa tercinta.

Perjalanan singkat saya ke Kinahrejo telah mengajarkan banyak hal bahwa manusia tidak boleh menyerah kepada keadaan. Manusia dan alam adalah dua hal yang saling memerlukan dan harus menjaga satu sama lain. Kinahrejo adalah potret yang sempurna, harmonisasi yang indah antara manusia dan semesta.

Traveller Notes:
–  Untuk memasuki kawasan wisata Kinahrejo, tiap orang wajib membayar biaya retribusi sebesar Rp 3.000.
– Tarif lava tour menggunakan jeep willys: Rute pendek Rp 250.000, rute sedang Rp 350.000, rute panjang Rp 450.000, paket sunrise Rp 300.000
– Tarif lava tour menggunakan motor trail: Rute pendek Rp 50.000, rute sedang Rp 150.000, rute panjang Rp 250.000.
– Tarif ojek dari parkiran menuju Desa Kinahrejo Rp 20.000

Sumber Bacaan:
Ekspedis KOMPAS “Hidup Mati di Negeri Cincin Api”

Mencari Kijing di Pantai Tanjung Pendam

Senja menyepuh pasir halus di sepanjang Pantai Tanjung Pendam, Belitung dengan warna keemasan. Ramai remaja bermain bola di pasir pantai yang sedang surut, beberapa berpose bak model berlatar laut senja, sebagian duduk-duduk di gazebo yang ada di pinggiran pantai. Suara motor yang digeber dengan kencang di jalan paving menuju taman yang dipenuhi pohon pinus terdengar bising, berpadu dengan teriakan dan tawa riang. Di belakang, bayangan hotel-hotel yang menjulang mulai pudar.

DSCN6088

Senja di Tanjung Pendam

Berjingkat-jingkat saya melangkah di atas bubuk pasir yang sangat halus. Sandal gunung yang telah menemani langkah selama ini saya buntel ke dalam kantong plastik lantas saya masukkan ke dalam ransel. Saya ingin merasakan nikmatnya melangkah di atas pasir lembut dengan kaki telanjang. Di beberapa tempat saya terpaksa harus melompat-lompat, menghindari rombongan ribuan kepiting laut yang berbaris miring. Dengan cepat mereka melangkah ke samping. Jika sepintas lihat itu seperti pasir yang bergerak. Wow, pertunjukan kolosal yang keren.

Awan gemawan yang menggantung di langit nampak seperti gumpalan permen kapas yang langsung meleleh ketika menyentuh lidah. Sedangkan laut terlihat begitu tenang tanpa deburan ombak maupun angin kencang yang membuat rambut kusut masai. Sungguh sore yang menyenangkan. Saat menengok ke samping, saya melihat seorang remaja yang berjalan sambil menggamit lengan kekasihnya. Saya tersenyum kecut. Ah sial. Andai ada Mas pacar.

Saya pun terus melanjutkan menyisir tepian pantai sambil sesekali mengambil gambar. Lagipula saya penasaran dengan banyaknya orang yang saya lihat di salah satu sisi pantai. Ratusan orang yang saya lihat itu terlihat sedang menunduk bahkan berjongkok, entah apa yang sedang mereka lakukan. Tiba-tiba saya teringat ucapan seorang kawan “Saat air laut sedang surut hingga jauh ke tengah biasanya orang-orang akan turun ke pantai untuk mencari kijing.”

DSCN6058

Awan gemawan seperti permen kapas

Hati saya pun bersorak. Jangan-jangan mereka memang sedang mencari kijing. Sebab sore ini laut surut sangat jauh, hampir 1 km lebih dari bibir pantai. Sudah lama saya ingin melihat tradisi Ngijing ini. Dalam kunjungan saya ke Belitung tahun sebelumnya, saya tidak berhasil mengabadikan tradisi ini. Saya pun mempercepat langkah bahkan sedikit berlari. Rupanya tebakan saya benar, mereka memang sedang mencari kijing.

Kijing merupakan salah satu biota laut yang termasuk dalam jenis kerang-kerangan. Bentuknya cukup unik, cangkangnya berwarna coklat kehijauan  dengan bentuk menyerupai ruas bilah bambu. Karena itu, di beberapa tempat di juga dikenal dengan nama kerang bambu, sedangkan di daerah pesisir selatan Madura dikenal dengan nama Lorjuk. Biota yang masuk dalam ordo Veneroida ini biasa hidup di pesisir pantai yang berlumpur.

Ya, Pantai Tanjung Pendam memang merupakan pantai berlumpur dan sedikit tercemar oleh aktivitas penambangan timah jaman dulu. Karena itu keberadaan kijing di pantai ini cukup menggembirakan. Sebab kijing merupakan salah satu filter biologi dalam perairan tercemar. Kijing rupanya mampu memanfaatkan plankton yang terkandung dalam perairan tercemar. Bahkan plankton tersebut diubah menjadi protein dalam dirinya sehingga kijing menjadi salah satu biota laut yang memiliki nilai gizi tinggi. Jadi keberadaan kijing selain bisa mendegradasi bahan tercemar dan meningkatkan kualitas perairan juga mampu menjadi alternatif sumber pangan masyarakat.

Berhubung saya penasaran dengan tradisi ngijing sekaligus penasaran ingin melihat kijing alias kerang bambu secara langsung, saya pun mendekati seorang bocah kecil yang tengah asyik memancing kijing menggunakan lidi dan kapur sirih yang ditumbuk. Bocah kecil tersebut namanya Ersa, usianya 9 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD Negeri di Tanjung Pandan. Dengan mata bulat, rambut ikal, dan kulit hitam, sepintas dia tidak mirip bocah Melayu melainkan lebih menyerupai orang Timur. Rupanya praduga saya tidak salah, kedua orangtuanya berasal dari NTT dan sudah tinggal di Belitung sejak belasan tahun lalu.

DSCN6083

Ersa, Si Pencari Kijing

Cara memancing kijing ini sangat unik. Pertama-tama dia mencelupkan bilah lidi ke dalam kapur sirih yang telah dicampur dengan air, lantas mencari lubang tempat persembunyian kijing. Setelah lubang ditemukan, dia pun memasukkan lidi sambil menggoyang-goyangkan dengan pelan. Jika kijing sudah mencengkeram, maka lidi itu pun ditarik dengan cepat. Hup. Dapatlah satu kijing yang kemudian di kumpulkan ke dalam botol air mineral bekas. Selain kijing dia pun mencari siput laut.

DSCN6070

Kijing alias kerang bambu

“Kakak mau cuba kah?” tanyanya pada saya dengan logat Belitung yang kental.

“Boleh kah?” tanya saya ganti. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum dan menyerahkan lidi serta kaleng sirih. Kemudian saya meniru apa yang dia lakukan. Memasukkan lidi ke sirih dan mencari lubang tempat persembunyian kijing. Berkali-kali saya coba dan selalu gagal. Tidak ada satu kijing pun yang saya dapat. Tiap saya menarik lidi yang ternyata kosong, Ersa selalu tergelak.

“Ersa, kasih tau kakak dong yang ada kijingnya tuh lubang yang kayak apa?” kata saya memohon.

“Lubang yang gerak-gerak kak, yang seperti ini,” jawabnya sambil menunjukkan sebuah lubang kecil. Ternyata benar, saat saya memasukkan lidi ke lubang tersebut saya berhasil mendapatkan seekor kijing yang cukup besar. Kini saya pun tahu triknya.

DSCN6071

Para Pencari Kijing

Rupanya tidak hanya saya yang tertarik untuk Ngijing. Beberapa wisatawan yang sedang bermain ke Pantai Tanjung Pendam juga nampak asyik mendekati bocah-bocah hingga orang dewasa yang tengah ngijing. Bahkan tak jarang mereka merayu anak-anak tersebut untuk menjual kijingnya. Rupanya kemuncaulan kijing ini musiman sehingga sulit mencari kijing di pasar. Biasanya para pencari kijing mencari untuk konsumsi pribadi. Salah satu kawan Ersa, menjual kijingnya seharga Rp 5.000 per gelas aqua. Itu pun setelah dirayu-rayu oleh ibu-ibu asal Bangka yang sedang berlibur.

“Tak kau jual kijingmu, Sa?” tanya saya saat kami berdua usai memancing kijing dan berjalan pulang meninggalkan Pantai Tanjung Pendam yang mulai gelap.

“Enggak. Kijingnya mau dimasak umak.”

“Biasanya dimasak apa? Emang enak?”

“Digoreng, ditumis. Enak. Kakak belum pernah cuba kah?”

Saya menggelang pelan. Penasaran juga pengen tau rasanya kijing seperti apa. Mungkin seperti bekicot? Atau keong? Ah sayang tidak ada yang jual tumis kijing di Belitung. Padahal katanya kijing memiliki kandungan gizi serta protein tinggi. Di persimpangan jalan Ersa pamit pada saya lantas naik ketangin (sepeda) dan mengayuhnya cepat. Ember kecil yang terbuat dari botol aqua bergoyang-goyang seirama dengan kayuhannya. Saya pun bergegas berjalan menuju kota. Suara adzan magrib telah terdengar dari Masjid Al Ikhram yang terletak di dekat pantai. Mentari telah tenggelam jauh di barat dan hari semakin pekat.

 

Semangat Mencintai Indonesia Berawal dari (Jazz) Gunung

Graphic1

Pada suatu sore nan muram, di atas kereta yang melaju menuju Magetan mendadak ponsel saya berdering. Tak ada nama, hanya deretan angka berkode ibu kota. Awalnya saya sempat mengira itu nomor dari perusahaan yang berkantor di Palmerah, Ternyata setelah saya angkat itu nomor  dari editor baru saya.

Intinya, saya ditugaskan untuk menyambangi Bromo guna meliput gelaran Jazz Gunung. Meski pusing mengatur ulang jadwal yang bertabrakan, spontan saya mengiyakan.

Akhirnya pada Kamis malam nan hujan saya berangkat menggunakan Malioboro Express. Lagi-lagi sendirian dan tanpa teman. Saya memilih lewat jalur Malang – Probolinggo – Bromo. Beberapa teman yang saya temui di Bromo sempat menyesalkan mengapa dari Malang tidak langsung ke Bromo lewat jalur Tumpang dan malah memilih memutar ke Probolinggo yang lebih jauh, saya cuma tersenyum. Dengan waktu yang mepet dan berjalan sendirian saya pikir itu rute yang paling tepat dan aman.

Gugusan Pegunungan Menjadi Background Panggung Jazz Gunung

Panggung terbuka yang dikelilingi gunung-gemunung

Berkesempatan menikmati Jazz Gunung yang dilangsungkan di Java Banana Bromo selama 2 hari berturut-turut dan tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar tiket dan akomodasi itu benar-benar menyenangkan hihihi.  Meski tidak bisa kemana-mana akibat gerimis yang sering turun saya tetap bisa menikmati keseluruhan acara.

Saya sangat menikmati penampilan demi penampilan para musisi yang hadir dalam acara Jazz Gunung, mulai dari musisi dan seniman lokal macam Tahez Komez, Cantrek, Blambangan Art School Banyuwangi, Kramat Madura, hingga musisi papan atas seperti Yovie Widianto Fusion, Balawan & Batuan Etnic Fusion, Sierra Soetedjo, Bandaneira Duo, Ring of Fire, Kulkul Band, Rieka Roeslan, serta Barry Likumahua Project.

Tak ketinggalan juga dua MC koplak Alit & Gundi serta Om Butet yang menciptakan kata-kata koplak semacam “Gaul, gilak, gondes,” dan “mantan adalah jodoh orang yang kita coba.” Oya satu lagi, Pak Menteri Gita Wiryawan yang berhasil diajak ngejamm bareng Djaduk Ferianto & Idang Rasjidi.

Buat saya setiap performer memiliki kekhasan masing-masing. Saya sempat merasakan aura magis tatkala mendengar petikan gitar Balawan yang dipadukan dengan gamelan Bali di malam yang dingin. Kabut yang tadinya memenuhi venue perlahan menghilang sehingga bulan yang hampir purnama terlihat di langit Bromo. Magic.

IMG_6787

Ngejazz di bawah sinar rembulan

Panggung terbuka Java Banana Bromo kembali tersaput kabut tebal saat Ring of Fire pimpinan Djaduk Ferianto tampil di atas panggung. Alunan saxophone berpadu dengan musik etnik terdengar sungguh cantik. Melambungkan pikiran saya jauh menuju gambaran gunung gemunung yang ada di buku Ekspedisi Cincin Api Kompas.

Saya juga sempat merasa galau ketika Yovie Widyanto memainkan instrumen lagu “kemana langkahku pegi, slalu ada bayangmu…” Malam yang dingin di Bromo berubah romantis. Pasangan yang duduk di sebelah saya langsung saling menggenggam jemari dengan mesra. La saya? Cukup menggigit kartu pers yang tergantung di leher. Asyem, mendadak nggerus, mendadak kangen mas pacar, dan mendadak Bromo jadi terasa semakin dingin.

Sedangkan Rieka Roeslan & Barry Likumahua Project mampu membuat saya berdiri dan bergoyang. Dengan koplaknya si Alit bilang “Mbak Rieka tuh nggak bisa move on, masak lagunya dahuluuuu semua indah. Masa lalu kok diingat-ingat terus. Move on dong mbak,” hahaha. Koplak to the max.  Dan saya suka banget penutupnya dari BLP, saat dia bilang “Love God, Love people, love Indonesia,” aiisssh manis bener.

20

“Love God, love people, love Indonesia,” kata Barry Likumahua

Selama 2 hari pertunjukan Jazz Gunung tersebut ada 1 moment dimana saya bener-bener terharu dan langsung merasa nyesek yakni saat Lea Simandjuntak menyanyikan lagu “Tanah Air” karya Ibu Soed. Lawong di momen biasa saja saya selalu terharu mendengarkan lirik demi lirik lagu tersebut, apalagi ini momennya di tengah dinginnya udara Bromo, malam hari, dan sendiri.

“Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang sepanjang hidupku. Meskipun saya pergi jauh, tidak kan lupa dari kalbu. Tanah ku yang kucintai, engkau ku hargai…”

Panggung Jazz Gunung Kala Senja

Magic blue

Bagi saya pribadi lagu tersebut sangat menggugah semangat untuk terus mencintai Indonesia, semangat untuk terus berjalan mengunjungi tempat-tempat baru, semangat untuk terus berkarya. Berawal dari atas gunung, semangat itu semoga akan terus menyebar . Semoga!

Ps: dua foto terakhir ini numpang narsis hihi. skip saja kalau males lihat.

1

Menjejak lebih dulu!

2

Satu-satunya foto saya di Jazz Gunung hihihi