Ransel Hitam ke Semarang

Akhirnya saya menjejakkan kaki lagi di Semarang. Kalau tak salah ingat, terakhir kali saya datang ke kota ini sekitar tahun 2000. Wew sudah satu dasawarsa rupanya. Tahun 2003, saat masih mengenakan seragam putih abu-abu, saya juga menyambangi kabupaten ini, namun hanya di kawasan Bandungan. Itu pun untuk urusan sekolah, alias presentasi lomba karya ilmiah, bukan jalan-jalan. Jadinya saat ditugaskan pabrik kata-kata untuk blusukan ke Semarang saya pun begitu bersemangat.

foto diambil dari http://pandeanlamper.blogspot.com

Menyoal nama Semarang, ada beberapa versi yang berkembang terkait dengan penyebutan kata tersebut. Namun, versi pribumilah yang paling diterima oleh masyarakat. Kata Semarang merupakan akronim dari kata ‘asem arang’ atau pohon asam yang tumbuhnya jarang-jarang. Pada akhir abad ke-15, Kerajaan Demak memerintahkan Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I) untuk menyebarkan agama Islam di kawasan Pragota. Suatu hari beliau melihat pohon asam yang tumbuh jarang, sehingga dinamailah daerah itu dengan nama Semarang.

Sebelum dinamakan Semarang, kawasan ini lebih dikenal dengan nama Pragota atau Bergota, sebuah pelabuhan utama yang menjadi pintu gerbang perniagaan internasional milik Kerajaan Mataram Kuno. Sekitar abad ke-VIII, Pelabuhan Bergota menjadi titik tolak pelayaran internasional yang dilakukan oleh pelaut Mataram Kuno. Dengan kapal sederhana, mereka mengarungi samudra luas menuju Madagaskar dan Tanjung Harapan. Pelayaran ini terjadi jauh-jauh hari sebelum pelaut-pelaut Eropa mencapai Afrika, dan Columbus menemukan Amerika. Jenis yang digunakan untuk berlayar terpahat di dinding Candi Borobudur (lupa di tingkat dan panel ke berapa) dan replikanya tersimpan di Museum Samudraraksa Borobudur.

Ratusan tahun kemudian Semarang kembali menjadi saksi pelayaran internasional saat Laksmana Besar Cina, Cheng Ho, dengan armada kapalnya yang kolosal mendarat di daerah Simongan. Di tempat berlabuhnya kapal Cheng Ho kemudian didirikan sebuah masjid yang kemudian berganti menjadi klenteng yang bernama Klenteng Agung Sam Poo Kong.

Saat ini Kota Semarang menjadi kawasan industri yang berkembang baik dari segi ekonomi maupun secara administratif. Menjelajah Semarang dalam kurun waktu 4 hari belumlah cukup untuk mengenal wujud asli kota ini. Tapi dari perjalanan yang terbilang singkat itu saya menemukan beragam warna dan cerita tentang Semarang. Mulai dari yang kocak hingga sesuatu yang memaksa diri untuk misuh. Penasaran dengan kisah-kisah ransel hitam selama di Semarang? Nantikan ceritanya di tulisan mendatang🙂

2 thoughts on “Ransel Hitam ke Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s