Minggu Palma di Gereja Blenduk

Akhirnya salah satu cita-cita saya sejak 1,5 tahun yang lalu terwujud di pertengahan bulan Mei. Ya, sejak membaca artikel tentang Gereja Blenduk di akhir tahun 2009 saya memiliki keinginan suatu saat harus menjejakkan kaki di gereja ini. Bentuk bangunan yang unik dan usianya yang sudah mencapai ratusan tahun tentu saja menjadi daya pikat utama Gereja Blenduk. Dan saat ditugaskan oleh pabrik kata-kata untuk jalan-jalan ke Semarang, Gereja Blenduk yang terletak di kawasan Kota Lama menjadi destinasi utama yang masuk dalam daftar kunjungan saya.

Gereja Blenduk (Sash' pic)

Berdasarkan itinerary yang dibuat oleh mas juru sotret, jadwal mengunjungi Kota Lama adalah Sabtu Pagi. Awalnya saya sempat mengusulkan hari Minggu, supaya saya bisa masuk ke gereja dan ikut ibadah. Tapi mas juru sotret berkata kalau hari Minggu parkiran gereja mesti ramai oleh kendaraan jemaat sehingga akan jelek kalo difoto. Meski sedikit kecewa saya pun manut saja.

Setelah sore sebelumnya diguyur hujan, Sabtu pagi cuaca Semarang begitu bersahabat. Melihat langit yang biru cerah kami pun bergegas mengendarai motor dan melaju ke Kota Lama. Tak berapa lama tibalah di depan Gereja Blenduk. Menara kembar di bagian depan dan atap berbentuk kubah yang terbuat dari perunggu berwarna merah bata menjadi penanda utama sekaligus membedakan arsitekturnya dengan bangunan-bangunan lain sehingga mudah dikenali dari kejauhan.

Altar Gereja Blenduk (Sash' pic)

Kesan pertama saya langsung wow, ini gereja keren sekali. Dibangun pada tahun 1753, Gereja Blenduk yang sekarang bernama GPIB Immanuel menjadi gereja kristen tertua di Jawa Tengah. Awalnya gereja ini dibangun tanpa menara, namun pada tahun 1800-an dilakukan renovasi dengan menambah 2 menara kembar di bagian depannya. Gereja yang memiliki fondasi berbentuk heksagonal ini dihiasi dengan jendela kaca patri di dindingnya. Saya benar-benar terpesona dengan Gereja Blenduk pada pandangan pertama. Namun sayang saya tidak bisa memasukinya sebab gerbang gereja terlihat dikunci. Puas motret sana-sini kami lantas meninggalkan Kota Lama guna menuju destinasi berikutnya.

Orgel Barok (Sash' pic)

Meski sudah menyaksikan Gereja Blenduk dari dekat, saya tetap belum puas sebelum bisa masuk ke dalam gereja. Saya pun merencanakan untuk ikut ibadah di Gereja Blenduk keesokan harinya. Berdasarkan jadwal yang saya baca di papan pengumuman, ibadah minggu dimulai pukul 06.00 WIB. Perfecto. Hari Minggu jadwal jalan-jalan saya baru dimulai pukul 09.00, jadi saya punya banyak waktu luang.

Jendela Kaca Patri (Sash' pic)

Berhubung hotel tempat saya menginap tidak terlalu jauh dari Kota Lama, saya pun memutuskan untuk berjalan kaki di Minggu Pagi yang cerah. Pukul 05.45 saya meninggalkan penginapan dan berjalan menyusuri Jalan Imam Bonjol, menyeberang Jembatan Berok, dan memasuki Kota Lama. Tak berapa lama Gereja Blenduk terlihat di depan mata. Nampak beberapa orang berpakaian rapi mulai memasuki gedung gereja. Sejenak saya mematut diri. Jenas, kaos, sneakers, scarf, dan tas kecil berisi kamera, tidak ada Alkitab didalamnya. Saya benar-benar terlihat seperti orang yang ingin berwisata. Ah tapi tak apalah, setidaknya saya masih terlihat rapi. Lagipula Tuhan melihat hati bukan melihat penampilan, begitu pikir saya.

Setelah menyalami penatua yang berdiri di depan sambil membagikan warta jemaat saya pun memasuki gedung gereja dengan mata yang berbinar. Deretan kursi tua yang berbentuk melingkar menyambut saya. Sebuah mimbar terletak di ketinggian dengan hiasan payung kayu jati yang unik. Orgel Barok (yang sudah tidak lagi berfungsi) tergantung di sisi kanan berdekatan dengan tangga besi yang dihiasi dengan sulur-suluran. Seorang opa-opa Belanda yang datang bersama kawannya nampak khusyuk berdoa diiringi suara organ dan merdunya suara worship leader. Sayapun terlarut dalam ibadah Minggu Palma yang hening dan megah. Usai ibadah saya lantas minta ijin kepada majelis yang menyambut saya di depan pintu tadi untuk mengambil foto. Bapak yang ramah itu pun mempersilahkan saya mengambil gambar sesukanya. Ibadah Minggu Palma tahun ini pun terasa sangat berbeda dan bermaksa bagi saya. Semoga lain waktu saya bisa datang ke Gereja Blenduk lagi. Yah, semoga!

Sasha pernah di sini!

#Ekspedisi Semarang! Mission Accomplished!

2 thoughts on “Minggu Palma di Gereja Blenduk

  1. Dua tahun lalu aku ke Gereja Blenduk. Pas lagi direnovasi jadi nggak moto depannya. Trus pas masuk ke dalam, penjaganya ga ramah bangeeettt… Ya sudah cuma muter2 bentar.

    Sash::
    Itulah kenapa aku hari minggunya juga milih datang mbak, soalnya banyak cerita kalo penjaganya nggak ramah, nah kalo datang minggu kan gak ada penjaga dan bisa masuk ke gereja🙂

  2. wah..semarang.. nice…. i was there too. Ransel Hitam. Beautiful, imagining how our oldmen lived in peace.

    ::Ransel Hitam
    Hi Fandy, thx 4 visiting my blog!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s