Bintang Itu Pasti Kembali Kok. Percayalah!

Sedari tadi tangannya sudah menggenggam kuas blok. Kanvas putih sudah siap di hadapannya. Namun, tak sesapu pun warna tergores di sana. Tangannya seperti lumpuh. Sejak ia kembali melukis dua tahun lalu, baru kali ini Keenan merasa buntu. Perasaan itu sungguh asing. Bahkan menakutkan.*)

Banyak hal yang berkelindan di kepala. Banyak hal yang ingin dituliskan. Namun entah mengapa semuanya hilang saat sudah menatap layar laptop. Bosan dan jenuh. Semua ide mampet di kepala dan tak ada satupun yang bisa tertranslasikan dalam rangkaian kata. Ini sudah pengalaman yang kesekian kalinya. Namun entah kenapa kali ini terasa begitu berat dan sangat menyesakkan.

————————————–

“Semuanya hilang, Poyan. Semuanya! Begitu saja! Saya nggak bisa melukis. Saya nggak tahu harus melukis apa lagi…”*)

Ya, semuanya hilang. Lenyap begitu saja. Hingga tak tau apa yang hendak dituliskan. Buntu. Kosong. Seperti ada yang mati di dalam sana. Mencoba mengeja tiap kata, mencoba merangkai tiap keping data, namun tidak menghasilkan apa-apa. Hanya kebosanan yang semakin menumpuk. Bosan dengan karya sendiri. Jenuh dengan tulisan sendiri. Mendadak ketakutan melanda. Takut jika ini pertanda kematian, karena seorang kawan pernah berujar “ketika kamu sudah mencapai titik jenuh untuk melahirkan karya, itu pertanda kamu tengah berada dalam ujian dan siap-siaplah naik kelas atau berakhir!”.

“Sudahlah, kamu perlu rehat sejenak. Saat ide mampet, stuck, dan tidak bisa menghasilkan karya itu pertanda kamu butuh refresh. Pikniklah ke alam karya, karena referensi akan menjadi kompressor yang bagus untuk karya-karya kamu selanjutnya.” Hibur seseorang.

Yang lain berujar “Tenang sajalah. Konon, seorang penulis yang dilanda bosan dengan tulisannya sendiri itu pertanda kualitas tulisannya tengah mengalami peningkatan. Kualitasnya semakin bagus.” Iya kalau bagus. Kalau lantas mati? Sanggah batinnya.

“Itu bagian dari proses pembelajaran. Ikuti saja ritmenya. Percayalah semua akan baik-baik saja. Justru di saat-saat seperti ini kamu akan lebih paham dengan karaktermu. Karena seseorang akan terlihat karakter aslinya saat sedang berada dalam titik terendah hidupnya. Apa yang dia lakukan, apa yang dia pikirkan, keputusan apa yang dia ambil, itu adalah dia yang sebenar-benarnya. Dan aku percaya kamu pasti mampu melewati proses ini. Kamu terlahir untuk menjadi kuat kok!” jelas kawan lain panjang lebar.

——————————————-

“Buku itu habis, Poyan,” bisiknya.

Pak Wayan terkesiap. Setergantungkah itu dia? Setelah dia diam beberapa saat, Pak Wayan pun berkata pelan, “Mau tidak mau, buku itu harus ad ayang meneruskan, Gus. Atau kamulah yang berusaha mencari ‘bintang’ baru. Mengeryi maksudku? Tidak mudah, saya tahu. Sekarang ini, terimalah saja kalau kamu belum bisa melukis lagi. Jalan itu akan terbuka dengan sendirinya.” *)

“Kalau tiap bosan dan jenuh aku harus mencari referensi bukankah itu berarti aku orang yang ketergantungan?”

“Rasanya tidak ada seorangpun yang nggak ketergantungan, semuanya mengalami  ketergantungan. Perbedaannya terletak pada sikap, apakah dia aktif atau pasif. Kita harus menjadi manusia yangaktif secara ketergantungan. Kita mencari bukan sekadar menerima apapun yang tersaji di depan. Lakukan semuanya dengan hati. Aku percaya kamu pasti akan kembali mendapatkan bintangmu!”

Yaya, percaya saja. Bintang itu pasti akan kembali kok.

Samar terdengar Fix You-nya Cold Play mengalun…

When you try your best, but you don’t succeed. When you get what you want, but not what you need. When you feel so tired, but you can’t sleep. Stuck in reverse.

And high up above or down below. When you’re too in love to let it go. But if you never try you’ll never know. Just what you’re worth

Lights will guide you home, and ignite your bones, and I will try to fix you…

 

Thx to @daruaji @supramerah @fawaizzah
*) Perahu Kertas, Dee

4 thoughts on “Bintang Itu Pasti Kembali Kok. Percayalah!

  1. loph u muah muah sas…. ^_^
    hehehe
    hidup itu kadang di atas, kadang di bawah
    ikuti alur hidup, tapi jangan sampai hanyut ^^
    #semangART kakak

    Astagah, aku di muah muah sama Mas Supramerah hahahahaha
    iya, iya, terimakasih banyak🙂

  2. Kalau ketemu kejenuhan, itu berarti manusia. Karna manusia itu selalu berubah dan kejenuhan adalah titik balik perubahan. Nikmati saja. Seperti katamu, kamu akan naik tingkat. Pilih yg itu, jangan pilih yang sebaliknya.
    Semangat!!

    Iya mbak tt, wajib mensugesti diri untuk naik tingkat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s