Perjalanan Pulang

By going too fast, it’s not the beautiful scenery that you left, but also the sense of what and why you do the things you do –anonymous

Fiuh, tak terasa bulan Agustus sudah menjejak angka 15 dan belum ada satu pun postingan di Ransel Hitam di bulan Agustus ini. Padahal awalnya saya sudah berketetapan minimal seminggu sekali update blog. Beberapa bulan terakhir saya sudah mulai rutin posting, namun mendadak di bulan Agustus ini mandek.

Agustus ini begitu banyak hal-hal tak terduga yang terjadi, hal-hal yang sangat random, baik tentang diri saya maupun yang berhubungan dengan orang lain. Tapi saya pada akhirnya bisa menarik benang merah dari semua yang terjadi. Pada intinya semua adalah tentang proses, perjalanan, dan berakhir pada kata pulang.

Bulan ini diawali dengan kabar bahagia seorang sahabat yang melahirkan anak pertama, rencana pendakian yang gagal akibat simbok dan adik yang ngedrop dalam waktu bersamaan, pengumuman bahwa saya menjadi salah satu juara dalam kompetisi menulis, pertemuan dengan orang-orang baru, 4 hari mencoba menjadi guide profesional, hingga kabar beruntut tentang meninggalnya ibu seorang sahabat dan eyang Mas pacar.

Semua terjadi dengan begitu cepat, susul-menyusul satu sama lain. Stakato! Saya seperti diajak naik rollercoaster. Kondisi hati naik turun dengan sangat cepatnya. Dalam rentang 15 hari saya menangis, tertawa, gamang, tersenyum, lantas menangis, dan tertawa lagi berkali-kali. Saya juga harus melompat dari satu kota ke kota lain dengan begitu cepat. Bertemu dengan banyak orang, menjadi dekat, lantas berpisah juga dalam waktu yang cepat, meninggalkan sedikit ruang kosong di hati.

Awalnya saya pikir minggu siang, ketika saya usai mengantarkan tamu-tamu saya ke bandara semuanya sudah berakhir. Saya bisa mengistirahatkan diri dan pikiran yang benar-benar capek. Saya ingin melancong ke suatu tempat. Namun ternyata belum. Kabar meninggalnya ibu seorang sahabat membuat saya memilih untuk mengunjunginya.

Beruntung dalam perjalanan tersebut saya membawa novel terbaru Mas Daniel Mahendra, Niskala. Novel itu benar-benar menjadi teman yang tepat di sepanjang perjalanan saya yang sendirian. Ketika kereta melaju membawa  saya meninggalkan Tegal menuju Semarang yang relnya melewati tepian pantai serta pemandangan Gunung Slamet, saya benar-benar mengalami jeda, merasakan spasi. Lantas, di dalam bus yang membawa saya meninggalkan Semarang menuju Jogja, sebuah kabar duka kembali saya terima. Eyangnya Mas Pacar meninggal dunia.

Sejenak saya memejamkan mata dan mengingat semua hal yang terjadi. Semua yang telah saya alami akhir-akhir ini adalah rangkaian perjalanan yang sangat panjang. Sejauh apapun saya melangkah, sejauh apapun saya menjauh, pada akhirnya perjalanan ini akan membawa saya menuju pulang. Pulang ke hati maupun pulang ke rumah abadi.

Pertemuan dengan orang-orang di sepanjang jalan adalah hal yang akan membuat perjalanan jauh lebih bermakna. Meski hanya sejenak, meski sesaat. Tak ada yang perlu disesali dari tiap pertemuan, baik yang singkat maupaun yang padat. Tak perlu takut dengan perpisahan, karena kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Karena itu tak perlu takut untuk berjalan sendiri. Baru saya sadari, selama ini perjalanan saya justru lebih banyak mengajarkan tentang pentingnya bisa menerima setiap rasa kehilangan, bukan semata soal menemukan.

Jogja, 15 Agustus 2013

6 thoughts on “Perjalanan Pulang

  1. Luv this quote —> ” selama ini perjalanan saya justru lebih banyak mengajarkan tentang pentingnya bisa menerima setiap rasa kehilangan, bukan semata soal menemukan”
    Saya belajar juga tentang rasa ini, tak mudah tapi begitulah hidup dijalani dan dimaknai🙂

    Aha, tos dulu dong mbak🙂
    Saya memang acap menemukan sesuatu dalam perjalanan. Terkadang juga ditemukan. Tapi satu hal yang selalu saya pelajari, kita harus selalu bersiap kehilangan. Termasuk merelakan pergi kenangan usai perjalanan🙂

  2. jadwal padat merayap,,,,inih

    Kalau saya sesi dolan-dolan di bulan ini sepertinya sudah selesai mas. Saatnya kembali ke balik meja, jadi bu guru yang baik hahaha. Tapi September sudah menanti untuk dieksplorasi🙂

  3. Sepakat dg paragraf terakhir, kehilangan atau perpisahan seringkali kita lupakan dalam tiap pertemuan. padahal kalau saatnya sudah tiba, kita harus menghadapinya, tanpa bisa bilang “ngko dhisik”

    Dan perjalanan mengajarkan saya untuk selalu siap dengan itu. siap meninggalkan tempat yang baru didatangi atau siap meninggalkan orang yang baru ditemui…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s