Segepok Surat Cinta Dari Masa Lalu

Beberapa waktu lalu, saat pulang ke rumah Wonosobo saya iseng bongkar lemari tua milik Ibu. Tujuan utama adalah mencari akta kelahiran saya. Seingat saya, Bapak menyimpannya menjadi satu di sebuah tas jinjing berwarna coklat tua. Semua dokumen keluarga ada disitu, mulai dari rapot dan ijazah bapak, sertifikat kegiatan dan pelatihan yang ibu ikuti ketika masih muda, surat nikah, akta kelahiran saya dan adik, hingga semua rapot serta ijazah saya dari SD hingga SMA.

Tak lama mencari, saya menemukan tas itu di antara tumpukan buku-buku dan bundelan proposal milik ibu.  Ah, tas jinjing yang saya cari bentuknya masih sama seperti dulu. Bedanya kali ini ada debu yang menumpuk melapisi permukaannya.

Saya pun lantas mengambil lap dan membersihkan permukaannya. Kemudian saya membukanya dan mengeluarkan document case yang sudah dimiliki bapak lebih dari 30 tahun lalu. Kali ini saya tak ingin terburu mencari akta kelahiran. Saya ingin berkubang dengan kenangan keluarga. Saya buka lembar demi lembar, saya baca dengan detil tiap huruf yang tercetak di tiap sertifikat, saya pandangi foto bapak dan ibu kala mereka muda lekat-lekat. Ternyata bapak sangat teliti, beliau menyusun semua dokumen berdasarkan tanggal dan tahun.

Tiba di bagian rapot bapak saya tergelak. Foto SMP bapak sangat culun, begitu pula saat beliau SMA. Kemudian saya lihat surat nikah mereka berdua, tertanda Desember 1986. Mereka berdua terlihat sangat kurus, namun bahagia. Lanjut ke rapot saya jaman SD. Lagi-lagi saya terbahak melihat pas foto hitam putih itu. Pipi saya bulat dengan rambut pendek berponi, benar-benar mirip Dora the Explorer. Pun begitu dengan foto adik saya yang sekarang kelas 2 SMA.

IMG_0001
Satu-satunya foto nikah bapak ibu yang masih tersisa. Lihat, bapak kelihatan jauh lebih muda dibanding ibu kan?😉

Di lembar terakhir, mendadak tangan saya meraba sesuatu yang berbeda. Kali ini bukan rapot, bukan sertifikat, bukan ijazah. Melainkan setumpuk kertas dengan tulisan tangan dan beberapa nampak koyak termakan usai. Penasaran, saya pun lantas mengambilnya dan mulai membaca tulisan tangan yang tercetak disitu.

“Kanggo Dik Maryam neng Parakan. Aku ora duko. Malah aku sing kudu njaluk ngapuro karo sliramu amargo aku ora biso ngancani. Suk kamis nek ora ono alangan aku lungo neng Purwokerto kiro-kiro seminggu. Ojo sedih yo…”

(Teruntuk Dik Maryam di Parakan. Saya tidak marah. Justru seharusnya saya yang minta maaf kepada dirimu karena tidak bisa menemani. Besok Kamis jika tidak ada halangan aku pergi ke Purwokerto kira-kira smeinggu. Jangan sedih ya…”)

31122012608
Tumpukan surat cinta masa lalu

Ambooooi, rupanya saya menemukan setumpuk surat cinta milik bapak dan ibu. Saya membacanya satu-persatu. Total ada 35 surat yang hampir semuanya menggunakan bahasa Jawa. Saya pun iseng menghitung, ternyata surat bapak jauh lebih sedikit dibanding surat ibu. Milik bapak tak sampai 10 surat. Ini bukan berarti bapak jarang berkirim surat, namun lebih ke masalah bapak lebih rajin menyimpan surat dari ibu sedangkan milik bapak untuk ibu entah tercecer di mana.

Membaca surat itu satu persatu saya membayangkan kisah cinta mereka jaman dulu. Bagaimana marahnya Ibu saat ada bocah (iya, ibu saya jauh lebih tua dibanding bapak) yang berani-beraninya bilang cinta ke beliau. Ibu pernah cerita, dulu katanya pertama kali ketemu bapak dia sebel. Soalnya bapak songong, belagu, dan kepedean hahahaha (nah kan, saya jadi tau dari mana bakat songong dan belagu saya diturunkan? Hahaha). Meski awalnya ibu nggak suka, tapi bapak tetep ngeyel. Akhirnya diterima deh cintanya bapak.

Tapi cerita belum berhenti disitu. Pakdhe saya (yang pendeta) rupanya tidak setuju dengan hubungan mereka karena bapak jauh lebih muda dibanding Ibu. Selain itu Pakdhe nggak mau adiknya nikah sama jemaatnya. Tapi benar bahwa kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya, lambat laun Pakdhe pun setuju dan mereka diijinkan untuk menikah.

Namun lagi-lagi kisah cinta mereka tidak semulus pahanya ceribel #eh hahahaha. Ada satu momen dimana gosipnya bapak akan dijodohkan sama saudara jauhnya bapak. Pakdhe pun murka dan menyuruh ibu pulang kembali ke Wonosari dan tidak boleh balik ke Wonosobo. Berhubung bapak sudah terlanjur cinta sama ibu, meski ditentang Pakdhe bapak pun nekat nyusul ibu ke Wonosari. Padahal saat itu bapak belum tahu rumah ibu di mana.

“Pas kui, aku lagi momong Mikha. Mendadak ono tamu kulonuwun. Seko njero aku rungu suara bapakmu. Tapi aku ra percoyo. Bareng aku metu aku kaget. Ternyata kui bener bapakmu. Rupone umbrus, elek, njur tali sepatune nganggo tali rafia. Aku kaget, ra ngiro babar blas nek bapakmu iso tekan Wonosari” kenang ibu sembari tersenyum.

(Saat itu aku sedang mengasuh Mikha. Mendadak ada tamu mengetuk pintu dan bilang permisi. Dari dalma ibu mendengar suara bapakmu. Tapi ibu tidak percaya. Begitu ibu keluar, ibu kaget. Ternyata itu bapakmu. Tampangnya kucel, kusut, jelek, dan tali sepatunya menggunakan tali rafia. Aku kaget, sama sekali tidak mengira kalau bapakmu bisa sampai di Wonosari)

Hahaha, gila, bapak saya memang gila. Saya selalu suka cerita bagian itu. Bagaimana bapak dengan heroiknya mencari ibu ke Wonosari, bermodal 1 ransel buluk. Tanya sana-sini, nginep di terminal, dan akhirnya nemu rumah ibu. Kemudian momen bapak ngetok rumah ibu. Saya ngebayangin perasaan ibu saat ketemu bapak di depan pintu. Mesti romatis kayak di FTV hahahahaha. Oya, bagian ini juga tertulis di surat cinta mereka lho. Aisssh, manis sekali mereka.

Beberapa hal lagi yang lucu yang saya temukan di surat itu. Di tanggal-tanggal awal mereka berkirim surat, bapak masih menyapa ibu saya dengan “Mbak Mar” dan ibu memanggil bapak “Dik Busono”. Tapi di bulan-bulan menjelang pernikahan, bapak memanggil ibu “Dik Mar” dan ibu memanggil bapak “Mas Busono”, hahaha. Terus kata sapanya “Kanggo Dik Mar sing tak tresnani” atau “Seko aku, Maryam, yayimu” aissssh. Dalam Bahasa Indonesia itu semacam “Untuk Dik Mar yang aku cintai” atau “Dari aku, Maryam, cintamu”. Ajajajajajajaja, sadap.

31122012609
Surat-surat ibu. Pake kertas air mail cuy hahaha.

Rupanya bapak ibu saya romantis juga. Saat iseng saya nanya ke ibu “Kenapa ibu mau sama bapak? Kan bapak jauh lebih muda dibanding ibu?” ibu jawabnya simpel “Soale bapakmu ki gemati”. Kata ibu, kalo cowok sudah sayang banget sama kita mending jangan pernah dilepaskan. Kalau dalam pernikahan yang cinta hanyalah ceweknya, biasanya tidak akan bertahan lama. Tapi kalau cowoknya yang sayang, katanya lambat laun ceweknya pasti bisa ditaklukkan. Ah emaaaak, i love you mak, petuahmu ajib hehehe.

Membaca surat-surat cinta mereka membuat saya sedikit iri pada kemesraan mereka sekaligus belajar banyak. Saya iri, karena saya tidak bisa mewariskan surat cinta bapak ibunya pada anak-anak saya kelak. Saya iri karena anak-anak saya nanti tidak bisa membaca kisah cinta bapak dan simboknya. Saya iri, karena anak-anak saya kelak tidak bakalan menuliskan hal seperti ini dalam blog mereka hahahaha.

Saya penasaran, apakah di jaman digital ini masih ada kawan-kawan yang mbribik gebetan pake surat tulis tangan? Atau masih adakah yang surat-suratan sama pacarnya? Serius, saya pengen lho. Tapi pacar saya mana mau?

Ps. Betewe setidaknya saya bersyukur, meski nggak pernah surat-suratan (yang pake pos, yang ditulis tangan) sama mas pacar, tapi dulu masih ngalamin dapat surat cinta jaman SMP hahaha.

14 thoughts on “Segepok Surat Cinta Dari Masa Lalu

  1. Huaaaaaa..
    Keren banget kisahnya ya. Aku ngebayangin ini kisah jaman dulu dipilemkan lagi pasti keren.

    Jadi pengen surat-suratan juga #Eh..??
    Kekekekeke

    Hihihihi, difilmkan tapi hitam putih ya mbak? ;p
    Hayuk surat-suratan, sahabat pena gitu🙂

  2. Romantissss bangett… Harta karun berharga banget itu. Betul kata bang Jo, jangan sampe hilang dan rusak😀

    Hihihihi, iya Mas. Harus disimpan dan dijaga inih🙂

  3. Waah…romantis ya ibu bapakmu ternyata Sash..sama salutnya sama keteguhan hati beliau itu lho…
    kalau soal surat cinta… aku masih simpan, hanya yg milik bapa seno aja, milik yg lainnya sudah tak bakar..

    Iya, Bu. Bapak emang gitu orangnya hehe. Waaah, masih simpan surat cinta dari Bapa Seno? Ayo posting, posting, posting #eh hihihihi. Ciye ciye ciye, dulu sebelum dibakar disobek-sobek dulu nggak bu? hihihi #kepo

  4. hahahaha saya salah satunya tg masih berkirim surat seperti itu, tapi itu dulu dulu sekali ma sang mantan hahaha

    Hihihihi, surat-suratan tuh asyik ya mbak. Saya cuma bertahan di SMA, sahabat pena gitu deh. Tapi sekarang udah nggak lagi.

  5. Harusnya di laminating tuh, harta karun yang sangat berharga😀
    Sumpah…Salut sama keteguhan hatinya si bapak + kenekatannya..
    Salut..salut, semoga langgeng sampai akhir hayat

  6. horeeeee ketemuuuuu…..
    kmaren pengennya nulis yg lucu2 jg dr surat ibu bapak saya. tapiii beliau berdua tu pembaca setia blog akuuu. jd gak braniii. hihihi
    eh surat cinta smp nya disimpen kagak?

    1. Hihihihi, untung bapak simbok saya gaptek & ndak kenal internet. Jadinya nggak pernah baca di blog. Cuma adek saya sering cerita ke simbok kalo saya nulis gini-ginian hehehe.

      Surat cinta jaman SMP punya siapa? Punya saya? Kalau punya saya udah habis dibakar dong. Dulu kan jaman SMP ritual setelah putus bakar2 surat cinta hahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s