Cerita Pagi di Warung Kopi Kong Djie, Belitong

Hari masih pagi saat saya memasuki sebuah kedai kopi yang terletak di ruas jalan utama yang menghubungkan Bundaran Satam dan Pantai Tanjung Pendam Belitung. Warung dengan tungku yang terletak di luar jendela itu tepat di depan Gereja Regina Pacis dan dekat dengan Sungai Siburik yang aliran airnya jauh lebih kecil dibanding Selokan Mataram. Awalnya saya hanya ingin mengambil gambar warung kopi legendaris ini dari luar tanpa berniat mampir. Maklum, pagi itu saya harus kembali ke Jakarta dan hanya memiliki sedikit waktu luang untuk mengitari Tanjung Pandan terakhir kalinya. Namun lambaian tangan pemilik warung, Om Joni, memaksa saya mampir sejenak.

DSCN6939

“Kapan tiba di Belitong?” tanya Om Joni ramah sambil menuangkan kopi ke gelas-gelas kecil. Sesekali dia mengaduk panci tempat merebus kopi dan membuka tutup ceret yang digunakan untuk menjerang air. Aroma harum kopi langsung menguar di udara, memenuhi warung yang ukurannya tidak seberapa besar itu. Pagi pun menjadi semakin wangi.

“Sudah dua minggu lalu, Om” jawab saya sambil memperhatikan interior warung. Hmmm, rupanya tidak ada satu pun yang berubah sejak terakhir saya datang kesini. Pun begitu dengan suasananya. Orang-orang bercengkerama dan berbincang dalam berbagai bahasa, Hokkian, Indonesia, Melayu, bahkan sama-samar saya mendengar bahasa Sunda dan sapaan “Horas”. Meski berbincang dalam bahasa berbeda, ada bahasa universal yang dipahami semua, senyum hangat dan tawa yang berderai-derai.

“Lho, saya pikir baru datang hari ini. Kenapa tidak mampir dari kemarin-kemarin?” tanyanya sedikit terkejut. Bukannya menjawab saya malah balik bertanya, tak kalah terkejut dengan pertanyaannya barusan.
“Om Jon masih ingat sama saya to?”
“Ingat, makanya saya suruh mampir. Dulu kan kamu sering ke sini, pesan kopi susu sama telur setengah matang dan suka tanya-tanya,”

Saya tergelak. Ada sesuatu yang hangat mengalir di hati. Hampir setahun sejak terakhir saya nongkrong di tempat ini, dan ternyata Om Jon masih ingat dengan saya. Padahal tamu-tamu yang datang ke Warkop ini datang silih berganti tiap harinya. Saya yakin cewek berbaju merah dari Jawa yang mampir kesini bukan hanya saya. Namun entah kenapa dia masih ingat dengan detil. Bahkan bagaimana cerewetnya saya dulu saat tanya-tanya soal sejarah Warkop Kong Djie pun masih dia ingat.

Bang Joni, Pemilik Warkop Kong Djie
Bang Joni, Pemilik Warkop Kong Djie

Ingatan saya pun melayang ke tahun 2012. Beberapa waktu sebelum menjejak di Belitong, saya sudah googling banyak hal soal Warkop Kong Djie ini. Oleh karena itu ketika nongkrong di Warkop Kong Djie untuk pertama kalinya saya langsung merasa seperti sedang nongkrong di cafe sebelah rumah. Nyaman dan sambutannya hangat. Pelayannya ramah, pemiliknya apa lagi.

Kala itu meski tengah sibuk meracik pesanan kopi O maupun kopi susu untuk pengunjung, Om Jon bersedia menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang saya lontarkan. Sesekali beliau minta maaf karena obrolan harus terhenti sebentar karena kesibukan. Duh, seharusnya saya yang minta maaf karena telah mengganggunya namun malah Om Jon yang meminta maaf.

Berdasarkan cerita, Warkop Kong Djie ini sudah ada sejak tahun 1945. Pertama kali buka, lokasinya bukan di tempat sekarang melainkan di Buluh Tumbang, dekat dengan Bandara HAS Hanandjoeddin. Sejak dulu warkop ini sudah menjadi tempat nongkrong favorit. Alasan utama tentu saja lokasinya yang sangat strategis; tepat di tepi jalan, dekat dengan pusat kota, dekat dengan pelabuhan dan pasar, serta dekat dengan Pantai Tanjung Pandan. Setelah Belitong menjadi jujugan wisatawan, warung ini pun semakin ramai.

Berbeda dengan warung kopi di Jogja yang biasa buka sejak sore hingga dini hari, Warkop Kong Djie justru buka sejak subuh (pukul 05.00) hingga pukul 16.00 WIB dengan jam-jam pengunjung terpadat antara pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Kata-kata “Segelas kopi, segelas semangat di pagi hari” benar-benar terlihat disini. Ngopi itu ya pagi, bukan malam.

Sambil ngopi, para pengunjung akan ngobrol dengan siapa saja yang ditemui, entah kenal atau tidak. Topik perbincangan pun sangat beragam, mulai dari soal politik, kriminal, carut marutnya negara, hingga gosip-gosip murahan. Random. Tapi justru itu yang membuatnya menarik. Rokok di tangan kanan, kopi di tangan kiri, berita-berita terbaru dikantongi.

Jika bosan ngobrol mereka akan bermain catur. Ya, tidak hanya di Warkop Kong Djie. Kebanyakan warkop di Belitong selalu menyediakan papan catur sebagai teman ngopi. Jika Andrea Hirata mampu menelurkan dwilogi novel Cinta Dalam Gelas dan Padang Bulan yang berkisah tentang warung kopi dan serunya turnamen catur dalam rangka Agustusan saya pikir itu bukan semata imajinasinya, melainkan berpijak pada keseharian masyarakat yang dia temui.

Di Warkop Kong Djie inilah untuk pertama kalinya saya minum kopi susu yang bukan minuman sachet. Ternyata nikmat juga, dan tidak membuat jantung berdebar-debar seperti saat saya minum kopi instan. Tapi sayangnya rasa nikmat itu harus ditebus dengan perut yang melilit akibat maag kambuh. Iya, saya salah, saya lupa belum sarapan tapi sudah sok-sokan ngopi.

Pada kesempatan berikutnya, selain kopi susu saya juga pesan telur kampung yang direbus setengah matang. Telur dengan tekstur setengah cair itu kemudian di masukkan ke dalam gelas kecil, ditaburi bubuk lada dan kecap asin. Cara makannya gampang, cukup diambil sesendok demi sesendok kecil, seperti halnya makan tiramissu. Lantas masukkan ke mulut. Sluuurrrp, itu nikmat sekali kawan. Saya bahkan bisa habis dua.

Selain pemiliknya yang ramah, suasananya yang cozy, dan telur rebusnya yang nikmat, sebenarnya ada satu hal lagi yang membuat saya jatuh hati dengan Warkop Kong Djie. Saya pernah berbagi mimpi dengan kawan baru yang saya temui. Dan hingga saat ini dia adalah orang yang selalu percaya bahwa mimpi itu akan terpenuhi. Bukankah hal yang sangat menyenangkan ketika tau ada orang lain yang menaruh kepercayaan pada mimpi-mimpi kita?

Saya masih ingat jelas. Saat itu juga hari terakhir sebelum saya bertolak ke Jawa. Saya meminta tolong seorang kawan yang baru saya kenal di Batu Mentas untuk menemani ngopi. Dia mengiyakan. Akhirnya duduklah kami berdua di sudut Warkop Kong Djie. Pesan kopi lantas ngobrol itu ini. Sesekali orang-orang turut menimpali.

Kala melihat kaos merah dengan tulisan “Berani Bermimpi” yang saya kenakan, orang-orang jadi nyeletuk “Kok berani bermimpi? Bukan Sang Pemimpi?” saya hanya tersenyum. Kalau mau jadi sang pemimpi ya harus dimulai dengan berani bermimpi. Di sela obrolan yang random, tiba-tiba kawan saya bertanya “Jadi kapan nih bukunya terbit?” lagi-lagi saya tersenyum, tapi kali ini senyum kecut. Lantas cerita tentang mimpi-mimpi itu pun mengalir dengan deras. Pagi, kopi, dan mimpi, bukankah itu pembuka hari yang seksi?

“Saya ceritakan mimpi-mimpi saya ini ke abang supaya terus menjadi pengingat buat saya. Itu menjadi semacam janji yang harus saya tepati. Jika nanti saya lupa akan mimpi itu, setidaknya ada orang yang bisa mengingatkan,” kata saya kala itu. Dan terbukti benar, hingga kini kawan saya itu kerap “menagih janji soal mimpi” yang pernah saya bagi.

“Mau minum kopi susu?” mendadak sapaan Om Jon membuyarkan lamunan. Saya tergagap. Terseret dari ruang nostalgia setahun lalu.
“Enggak usah Om, saya buru-buru.”
“Memangnya mau kemana? kalau begitu mampirlah besok.”
“Waduh, nggak bisa Om. Hari ini saya mau pulang. Kemarin-kemarin nggak sempat mampir soalnya overland ke Bangka.”
“Oh, saya kira di Belitong masih lama. Ya sudah kalau gitu. Hati-hati ya. Jangan lupa kalau kapan-kapan main ke Belitong mampir sini.”
“Iya Om, pasti!”

Ya, saya janji. Suatu saat nanti kalau Tuhan ijinkan saya menjejak di Belitong lagi saya pasti mampir ke Warung Om Joni. Dan semoga saat itu saya juga sudah berhasil mewujudkan mimpi untuk menggenapi janji.

26 thoughts on “Cerita Pagi di Warung Kopi Kong Djie, Belitong

  1. Tulisan ini bagus. Seharusnya bisa diwujudkan sebagai buku. Aku suka. Bahasanya menarik. EYD-nya lumayan rapi. Bikin betah baca. Menjelajah petualangan macam ini bikin aku kabita. Pengen suatu saat bisa berkunjung ke Belitong juga bareng keluarga.🙂 Mencicipi rasa kopinya. Mengresapi suasananya. Aduh, bikin ngiler saja!

  2. Ingin sekali jalan-jalan ke Sumatera, cuma belum sempat =)

    Suatu saat, pasti jalan-jalan gendong ransel kesana, seperti RanselHitam =)

      1. Kalo soal rasa n cara penyajian kayaknya semua hampir sama deh. Tapi kl di manggar biasanya di warung Atet, katanya si itu termasuk warkop yg tua n legendaris. Kalo yg warkop baru n tempatnya asyik di cafe apung. Semacam di tepi danau gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s