Sekali Lagi Belajar Dari Gua Jomblang

Awan pekat memayungi langit, menyembunyikan terik mentari. Meski begitu keringat tak berhenti mengucur, membasahi pelipis, anak rambut, hingga coverall. Sudah 15 menit lebih saya meniti tali vertikal sepanjang 30 meter, namun belum banyak pergerakan berarti. Saya masih tertahan di tengah lintasan. Nafas saya keluar satu-satu, tersengal-sengal. Mendadak terdengar bunyi gemuruh dari atas diikuti teriakan panik Irvan “Rock faaaaall”. Saya tersentak. Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuh. Wajah saya pucat seketika.

Gua Jomblang
Gua Jomblang

“Pas kejatuhan batu itu aku sempet nangis lho. Sakit banget. Sialan,” kata Mas Gugun sembari menyesap kopi hitam buatan Mas Kirun. Sedangkan Warso, Irvan, Ucup, dan Mas Kirun tertawa-tawa mengingat kejadian tersebut. Mereka berlima adalah alumni KDKL Hikespi (Kursus Dasar Kursus Lanjutan Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia) tahun 2012 silam. Saya dan Timbo yang tidak tahu menahu hal tersebut hanya bisa bergidik ngeri membayangkan.

Malam itu di halaman basecamp Kalisuci kami sedang berbincang mengenai hal-hal teknis dan apa saja yang harus dipersiapkan untuk caving di Jomblang esok hari. Di sela-sela obrolan santai dan penuh tawa itulah Mas Gugun berkisah soal pengalamannya kejatuhan batu di gua saat mengikuti KDKL. Meski sudah memakai helm standar caving, namun kejatuhan batu di kedalaman sekian meter adalah hal yang sangat menyakitkan.

Ah mendadak saya ingat beberapa artikel Mas Cahyo Rahmadi di blognya soal betapa pentingnya mengenakan helm selama berada di dasar gua. “Kita tak akan pernah tau apa yang ada di atas dan apa saja yang bisa menjatuhi kepala kita,” kurang lebih begitu tulisnya. Karena itu helm adalah hal yang wajib dikenakan saat caving. Entah mengapa hingga menjelang tidur cerita Mas Gugun masih saja terlintas di pikiran.

****

Jumat pagi yang mendung, kami berdelapan meluncur menuju kawasan Gua Jomblang. Jalan makadam dari batuan karst yang tidak tersusun rapi membuat kendaraan yang kami tumpangi bergoncang hebat. Berbeda dengan pengalaman caving pertama di Jomblang yang sangat excited, kali ini saya merasa ada sedikit yang menganjal. Ada kelabu yang menggelayut di langit dan menutup mentari. Alamat tidak bisa melihat “cahaya surga” dengan sempurna nih, pikir saya.

Sesampainya di bibir Jomblang kami pun langsung berbagi tugas. Mas Kirun, Mas Gugun, Warso, dan Ucup langsung bergerak untuk membuat rigging atau lintasan di jalur VIP. Timbo merebus air untuk menyeduh kopi. Sedangkan Irvan memberi pelatihan singkat merangkai SRT-set kepada saya dan Mbak Ade. Tak lupa dia mengajari cara descending dan ascending.

Ini adalah kali kedua saya caving di Jomblang. Namun untuk urusan peralatan saya benar-benar buta. Maklum, saat caving pertama dulu semua alat sudah dirangkai dan saya tinggal memakainya. Bahkan saat ascending (naik meniti lintasan) saya tidak sepenuhnya SRT-an melainkan semi haulling. Dan dalam waktu yang sangat singkat Irvan “memaksa” saya untuk bisa merangkai semua alat sendiri serta memahami sistem kerja masing-masing. “Anggap saja kursus gratis daripada ikut KDKL bayar ratusan ribu,” katanya sambil bercanda.

***

Jelang pukul 10.00 WIB, kami yang masih di atas bersiap memasuki Gua Jomblang. Berhubung Mas Gugun harus mengambil gambar, maka dia turun terlebih dulu. Setelah mas Gugun dilanjutkan Ucup dan Kak Ade. Sedangkan saya menanti di slope yang terasa licin akibat rembesan air tanah dan lumut yang tumbuh di batuan karst.

Begitu terdengar teriakan “Rope free” dari bawah pertanda sudah tidak ada lagi caver yang berada di lintasan tali, maka kini giliran saya yang turun. “Semua akan baik-baik saja” rapal saya dalam hati sembari memasang peralatan di kernmantel dan memastikan semuanya terpasang dengan benar. Sesaat saya melirik 3 orang yang sudah di bawah, mereka semua terlihat sangat kecil.

“Ok Sasha, ini akan berjalan lancar. Just believe in your rope!” lagi-lagi hati saya berbicara. Mungkin dia tahu bahwa pemiliknya sedang gamang. Entah kenapa pikiran saya kali ini diliputi banyak pikiran buruk. Banyak “seandainya” muncul di kepala. Seandainya talinya putus gimana? Seandainya ada batu yang jatuh bagaimana? Seandainya SRT-set saya mendadak rusak bagaimana?

Arrrghhh! Menyebalkan! Rutuk saya dalam hati. Mungkin hal inilah yang kerap melintas di benak kawan-kawan petualang. Terkadang ada ketakutan yang muncul tanpa sebab, dan lantas menggagalkan semua rencana. Tapi saya tidak boleh kalah. Saya harus melawan semua ketakutan itu. Akhirnya sembari mensugesti diri untuk mengenyahkan semua kebimbangan dan pikiran buruk yang melintas di kepala saya mulai bergerak menuruni tali.

Menuruni lintasan (pic by Mas gugun)
Menuruni lintasan (pic by Mas gugun)

Tak berapa lama Irvan telah berada di samping saya. Rupanya dia menyusul turun menggunakan lintasan di sebelah kanan dan mendampingi saya. “Takut?” tanyanya sembari tersenyum. “Enggak, cuma nervous” jawab saya. Ah sial, rupanya aura ketakutan dan kegelisahan saya bisa terbaca dengan jelas.

Akhirnya setelah beberapa menit menuruni lintasan tali, kami berdua tiba di dasar gua yang lembab. Berhubung sedang musim penghujan, maka tanah yang kami pijak berubah menjadi lumpur. Lumpur di perbukitan karst bukan sembarang lumpur, melainkan lumpur yang sangat lengket sehingga sulit dibersihkan.

Tercepuk-cepuk, kami berenam melangkah meninggalkan dasar Gua Jomblang dan memasuki chamber besar yang merupakan gerbang menuju Gua Grubug. Jalan setapak berlumpur yang licin ditambah medan yang menurun membuat kami semua harus berpegangan tali supaya tidak tergelincir. Sepatu boot yang kami pakai terasa sulit digunakan untuk melangkah. Rasanya ingin lepas sepatu dan “nyeker” saja. Tapi melepas alas kaki bukan pilihan yang bijak.

Tercepuk-cepuk melangkah
Tercepuk-cepuk melangkah

Memasuki chamber terdengar suara gemuruh air yang cukup kencang. Suara gemuruh itu berasal dari sungai di dalam Gua Grubug serta butiran air yang turun dari atap gua. Ya, meski di atas tidak hujan, namun kondisi di dalam gua seperti hujan deras.Tetesan air tanah yang terus menerus turun dari atap gua membuat kami basah kuyup meski kami tidak main di sungai. Inilah salah satu alasan mengapa caving sebaiknya tidak dilakukan saat musim penghujan. Pada musim hujan, meski kondisi di atas bumi cerah di dalam gua bisa saja terjadi banjir besar yang akan membahayakan keselamatan para caver.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami tiba di Gua Grubug. Kondisinya tepat seperti yang saya bayangkan, tidak ada “cahaya surga” yang membuat saya berdecak kagum. Berhubung kami sudah datang terlalu siang dan matahari tertutup mendung, maka cahaya yang biasanya berupa garis tegak lurus berubah menjadi bias kabut. Seluruh ruangan gua dipenuhi uap air dan kabut.

Derai air tanah seperti hujan yang terus menerpa wajah, uap air laksana kabut putih, gemuruh suara aliran sungai di bawah, serta kondisi hati yang gamang, semuanya menjadi kombinasi yang sempurna untuk terus menggerutu dan kecewa. Untungnya kawan-kawan seperjalanan saya kali ini adalah orang yang menyenangkan, sehingga caving kami tetap bertajuk “caving ceria”.

Tak sampai 15 menit menggambil gambar, kami kembali menuju dasar Gua Jomblang. Ya, kami tak ingin keluar dari dasar gua terlalu sore. Sebab selain harus istirahat memulihkan energi di dasar Jomblang dan naik satu persatu, kami juga harus melakukan cleaning alat yang cukup memakan waktu.

*****

Sekitar pukul 13.30 kami sudah tiba kembali di dasar Jomblang. Perjalanan yang tidak sampai 1 jam ke Grubug terasa menguras energi. Meski begitu, kami masih tetap bersemangat untuk melakukan aksi pamungkas saat caving yaitu perang lumpur. Masing-masing dari kami mengambil lumpur yang menempel di boot dan melempar serta mengoleskannya ke wajah teman-teman. Aktivitas yang cukup mengendurkan ketegangan dan menciptakan tawa berkepanjangaan.

Pulang...
Pulang…

Pukul 14.15 WIB, kami pun mulai ascending. Kak Ade dan dan Ucup merupakan kloter pertama yang naik. Setelah itu dilanjutkan saya dan Mas Gugun. Kemudian kloter ketiga yang menjadi pamungkas sekaligus cleaning alat adalah Irvan dan Warso.

Begitu Kak Ade dan Ucup tiba di atas, saya dan Mas Gugun pun mulai bersiap di lintasan. Perlahan kami mulai bergerak naik, senti demi senti. Entah mengapa kala itu saya merasa sangat lelah dan kaki sangat sulit digerakkan. Pergerakan saya sangatlah lambat. Saat Mas Gugun sudah tiba di atas, saya masih tertahan di bagian bawah. Nafas saya ngos-ngosan, dan energi begitu terkuras.

Warso yang berada di bawah terus menyemangati “Ayo, terus naik. Kalo capek kakinya gantian. Pakai kaki yang paling kuat buat menjejak,” teriaknya dari bawah. Saya pun mencoba memasukkan kaki kiri ke dalam footloop. Lagi-lagi saya coba menjejak namun rasanya tidak ada energi yang tersisa.

Terlalu lama tergantung di tali akhirnya membuat perut saya tidak nyaman dan kaki sedikit kram. “Kalau capek berhenti dulu, nggantung aja nggak papa,” lagi-lagi Warso berteriak dari bawah. Saya pun menuruti perintahnya. Saat tergantung di tengah lintasan saya melihat ke bawah, rupanya sudah lumayan tinggi saya naik namun entah mengapa tidak sampai-sampai. 25 meter terasa begitu tinggi.

Melihat saya yang kesulitan, Warso pun mengambil inisiatif untuk naik melalui lintasan sebelah kanan. Nantinya dia akan memandu langkah saya. Namun saat dia mulai ascending mendadak terdengar bunyi gemuruh diikuti teriakan Mas Gugun “Rock faaalll”, Irvan yang berada di bawah pun menyambung teriakannya dengan keras “Rock faaaall” sambil berlari menjauh.

Saya dan Warso yang masih berada di lintasan hanya bisa pasrah. Warso sempat berteriak menyuruh saya merapat ke tebing, dan itu langsung saya lakukan. Saat itu benak saya benar-benar kosong. Yang terlintas di kepala adalah cerita Mas Gugun semalam tentang pengalamannya kejatuhan batu. Mulut saya komat kamit merapal doa. “Tuhan ini hidupku, semua kuserahkan padaMu. Apa pun yang terjadi saya berserah,” doa saya.

Namun rupanya nasib baik masih berpihak kepada kami. Tak ada satu pun batu yang mengenai kami berdua. Guguran batu utama yang besar tertahan oleh pohon sehingga tidak meluncur hingga bawah. Sesampainya di atas, saya hanya terduduk. Letih, ngeri, dan ucapan syukur teramu menjadi satu.

“Tadi kamu pas nggantung di tali takut enggak, Sa?” tanya Irvan saat kami mengemasi peralatan.
“Enggak sih, takutnya cuma pas ada batu nggelinding,” jawab saya.
“Aku juga udah takut banget Sa, soalnya batunya gede banget. Kalo ngenai kepala bisa payah itu,” sambar Mas Gugun.

Untunglah caving kami hari itu bisa berjalan lancar. Sekali lagi saya belajar, bahwa dari sebuah perjalanan kita pasti akan belajar banyak hal. Kali ini saya belajar tentang mengahalau kekecewaan, menghadapi ketakutan, serta menghargai setiap proses. Lagi-lagi Jomblang mengajari saya tentang banyak hal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s