Pada Jejak ke 7, Kami #MenujuSelamanya

Bersama selamanya
Bersama selamanya

Banyak yang berujar bahwa hal yang paling dicari oleh para pejalan adalah rumah, baik untuk sekadar singgah maupun pulang dan tinggal. Seumpama kapal yang menemukan dermaga untuk membuang sauh hingga membuatnya tak lagi berlayar ke tempat jauh.

Awalnya saya mengira seperti itu dan memang seperti itu. Dia adalah tempat saya pulang untuk menyandarkan hati. Dia adalah sosok yang memberikan kenyamanan berlimpah saat saya lelah usai melakukan perjalanan panjang. Dia adalah pribadi yang selalu menanti saya kembali sejauh apa pun saya pergi.

Tujuh tahun berlalu seperti itu. Saya berlari, dia menanti. Saya berkelana, dia tetap ada di sana. Bahkan saat saya berusaha menjauh, dia tetap percaya bahwa pada akhirnya saya akan berlabuh.

Hingga akhirnya saya berpikir tidak bisa selamanya seperti ini. Akan tidak adil jika dia hanya saya jadikan rumah persinggahan. Jika memang ingin #MenujuSelamanya kami harus melangkah bersama. Tidak ada yang tinggal, tidak ada yang pergi.

Setelah tujuh tahun berbagi cerita, pada 3 Mei 2014 lalu kami memutuskan untuk berani membakar sauh, menempuh petualangan baru yang tidak akan kami ketahui kapan akhirnya. Ini akan menjadi perjalanan terjauh yang kami tempuh bersama. Saya tak perlu lagi memikirkan kapan dan kemana akan pulang, sebab rumah itu telah ada di sisi saya, berjalan bersama saya #MenujuSelamanya.

Terimakasih untuk setiap rawian doa, rapalan mantra bahagia, serta untaian nada yang telah dilantunkan oleh kawan-kawan semua di hari bahagia kami. Karena kalian, akhirnya kami memantapkan hati dan berani menempuh petualangan ini.

#MenujuSelamanya
#MenujuSelamanya

Bersama kami menempuh setapak yang telah dipilih, menelusuri liku semesta, mengikuti kehendak Allah, menggenapi rencanaNya, serta menjadi pemujanya yang kekal
Bersama kami berbagi mimpi, berbagi ransel, berbagi kisah, berbagi hidup
Bersama kami #MenujuSelamanya

24 thoughts on “Pada Jejak ke 7, Kami #MenujuSelamanya

  1. selamat yaa mb sash…layaknya perjalanan akan ada kalanya lurus dan ada kalanya berliku…meski begitu tetaplah trs berjalan…selamat berjuang…”Apa yg dipersatukan oleh Allah, jgnlah diceraikan oleh manusia”…salam dr ujung timur p.jawa

    1. Iyaaa mbak, terimakasih buat wejangannya. Jika suatu saat menemui jalan terjal dan hantaman badai pasti akan selalu ingat janji di depan altar.

      Mbak kalau main ke Jogja kabar-kabar dong. Biar bisa ketemuan kita hehe.

      1. Siapp mb sash…cm kyknya msh blm ada rencana mudik, soalnya taun ini giliran yg dr jogja pd main ke sini…mb sash kpn mampir? No hp sy ganti ya, ini yg baru 082232813541 dan ini pin bb kalo mau invite 2683FCEE…

  2. Manis dan romantis… saya suka gaya mbak menyampaikan sebuah keromantisan yang sederhana, petualangan hidup menuju penyatuan.. Seperti untaian grafik dengan absis waktu yang takhingga dan ordinat kebahagiaan yang terus menungkat..🙂 Selamat menempuh hidup baru.. semoga kemeriahan pesta,kebahagiaan dan keceriaan hari pernikahan tidak hanya terjadi pada saat upacara pernikahan saja tetapi akan seterusnya selamanya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s