Bersahabat Dengan Ular Bersama Sioux Indonesia

“Mas, di bawah sana ada ularnya nggak?” tanya saya sebelum mulai caving di Jomblang untuk pertama kalinya. Usai menanyakan hal tersebut mendadak saya merasa bodoh. Menurut ngana? Kawan saya hanya tersenyum sambil menaikkan bahu sebagai jawaban.

nuansa ular sioux indonesia

Dulu pandangan saya tentang ular nyaris sama dengan orang-orang pada umumnya. Ular itu hewan yang menakutkan, mengerikan, dan layak untuk dibunuh. Menghabiskan masa kecil dan remaja di pinggir kali dan sawah menjadikan rumah saya kerap dimasuki ular. Mulai dari ular hijau yang kecil, ular sawah, hingga ular belang hitam putih sebesar tangan bayi. Hampir tiap bulan rumah saya dimasuki ular, dan semuanya bernasib tragis di pentungan bapak.

Saat melanjutkan kuliah ke kota, pertemuan saya dengan ular menjadi jarang, bahkan nyaris tidak pernah. Namun ketika saya mulai senang jalan-jalan dan beraktivitas di luar ruangan, ular kembali menjadi hewan yang terkadang saya jumpai. Hanya saja kali ini pandangan saya tentang ular berbeda. Ular bukan lagi menjadi binatang menakutkan yang harus dibunuh, namun lebih baik dihindari. Jika melihat ular lewat paling saya hanya berteriak kaget dan lari menjauh.

Citra ular sebagai “sosok antagonis” sudah dimulai dari kisah Adam dan Hawa. Dua sejoli itu termakan bujuk rayu ular untuk memakan buah di pohon, dan dari situlah sejarah dosa mula-mula manusia dimulai. Ular yang melandangkan sosok si jahat pun menjadi tumpuan segala kesalahan. Bahkan dalam legenda nenek moyang hingga tayangan film maupun sinetron ular selalu kebagian peran menjadi si jahat. Selain itu bentuknya yang memanjang dan melata membuat orang-orang takut dan jijik sehingga berusaha untuk membunuhnya saat berjumpa dengan mereka.

Terlepas dari kisah di kitab suci, sejatinya ular memiliki peran penting dalam keseimbangan alam dan ekosistem. Dalam rantai makanan, salah stau peran ular adalah menjadi pengendali hama tikus. Jika ular banyak yang diburu dan dibunuh, tikus pun akan berkembang biak dengan cepat dan merusak hasil panen. Tentu saja ini menyebabkan goyangnya keseimbangan rantai makanan.

Setelah membaca blog mas Dhave, saya baru tahu bahwa ternyata dari semua jenis ular hanya 5% saja yang berbisa sedangkan sisanya tidak. Ular juga memiliki daerah territorial. Jika kita memasuki wilayah tempat tinggalnya, itu artinya kita berkunjung dan siap-siap disambut tuan rumah. Sedangkan jika ada ular yang masuk ke rumah bukan berarti ular tersebut jahat dan ingin menganggu pemilik rumah. Kemungkinan terbesar adalah ular tersebut tersesat, apes, sedang celaka, atau mungkin mengejar makanannya alias tikus yang banyak bersembunyi di dalam rumah.

Nah bagi kalian yang ingin belajar lebih banyak tentang seluk beluk ular mungkin kalian bisa ikutan acara Nuansa Ular yang diadakan oleh Yayasan Sioux. Acara yang digelar di berbagai kota ini bertujuan untuk mengubah paradigma negative masyarakat dalam memandang ular.

Kegiatan Nuansa Ular ini memadukan beberapa aktivitas edukasi dalam satu hari, meliputi workshop, pameran ular, klinik Ophidiophobia, serta kegiatan tambahan yang bervariasi di setiap kota. Misalnya, lomba mewarnai untuk anak tingkat sekolah dasar pada Nuansa Ular Jogja.

Workshop NU dikemas untuk memberikan informasi mengenai biologi ular, bagaimana cara mengidentifikasi dan mengenali jenis-jenis ular, bagaimana memberikan pertolongan pertama pada gigitan ular (P3GU), dan cara menangani ular secara sederhana maupun menggunakan proper equipment bila bertemu dan ketika harus berinteraksi dengan ular.

Bagi pengunjung atau peserta yang masih takut akan hewan melata ini, tersedia Klinik Ophidiophobia yang dibuka secara gratis. Klinik ini dikelola oleh instruktur dan pemateri Sioux untuk membantu mengurangi ketakutan terhadap ular yang masih banyak ditemui di masyarakat. Selain itu, peserta juga dapat mengunjungi pameran ular di lokasi yang sama. Pameran ini menampilkan beberapa jenis ular Indonesia dalam bentuk asli, di dalam terrarium atau gex yang aman bagi pengunjung.

Di Yogyakarta sendiri acara Nuansa Ular ini akan diselenggarakan pada hari Minggu, 29 November 2015 di Tembi Rumah Budaya (Jl. Parangtritis Km 8.4, Desa Tembi, Kel. Timbulharjo, Kec. Sewon, Kec. Bantul, Daerah Istimewa). Acara ini terbuka untuk umum, baik anak-anak hingga dewasa. Biaya pendaftaran untuk mengikuti acara Nuansa Ular ini sebesar Rp 35.000 (pelajar dan mahasiswa) dan Rp 60.000 (umum). Info lebih lanjut mengenai acara Nuansa Ular di Jogja bisa menghubungi Yuladi di nomor 0817464801 atau emaik ke yuladhi@gmail.com

Sedangkan bagi kamu yang ingin tau lebih banyak soal ular dan Yayasan Sioux Indoneisa bisa menghubungi ini:

Sioux Indonesia

www.ularindonesia.org

Email : yayasansioux@gmail.com

Facebook Group : Ular Indonesia

Facebook Page : Sioux – Lembaga Studi Ular Indonesia

Twitter : @SiouxIndonesia

Instagram: @Sioux_Indonesia

4 thoughts on “Bersahabat Dengan Ular Bersama Sioux Indonesia

    1. Iya mbak. Ini emang diadakan di berbagai kota dan Jogja jadi kota terakhir. Aku aja nggak tau besok bisa datang apa enggak. Jauh dari rumah, kasian bocah ahaha.

  1. Imaginasi saya tentang ular masih standar bikin gemetar. Mbak Sash, salam kenal, mohon izin baca-baca postingan yang semua keren memilin rasa. Selamat terus berkarya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s