Pada Jejak ke 7, Kami #MenujuSelamanya

Banyak yang berujar bahwa hal yang paling dicari oleh para pejalan adalah rumah, baik untuk sekadar singgah maupun pulang dan tinggal. Seumpama kapal yang menemukan dermaga untuk membuang sauh hingga membuatnya tak lagi berlayar ke tempat jauh. Awalnya saya mengira seperti itu dan memang seperti itu. Dia adalah tempat saya pulang untuk menyandarkan hati. Dia… Read More Pada Jejak ke 7, Kami #MenujuSelamanya

Advertisement

Tentang Mas Pendaki, Tentang Mimpi-mimpi, Tentang Kamu!

Jika ada yang bilang obat paling mujarab untuk memulihkan hati yang patah adalah jatuh cinta lagi saya adalah kelompok orang yang sepakat. Jika ada yang bilang obat paling manjur untuk menyembuhkan luka lebam hati adalah bertualang, saya juga sepakat. Dan dia membuat saya mendapatkan dua hal tersebut dalam sosoknya. Ya dia. Mas pendaki yang selalu… Read More Tentang Mas Pendaki, Tentang Mimpi-mimpi, Tentang Kamu!

Untukmu yang Selalu Bertualang, Cepatlah Pulang!

Untukmu yang selalu bertualang Cepatlah pulang! Telah kutemukan tempat untuk membangun rumah, tepat seperti yang kau idamkan. Gunung tinggi di halaman belakang, telaga luas di dekat pintu depan, lengkap dengan sawah terhampar di sisi kanan dan sungai mengalir di sisi kiri. Cepatlah pulang! Lantas kita bangun rumah idaman. Dengan halaman luas yang dipenuhi dandelion dan… Read More Untukmu yang Selalu Bertualang, Cepatlah Pulang!

Melangkah Enam

Kamu adalah kata ganti untuk kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan, doa-doa yang dikabulkan, serta masa depan yang tak lagi terlihat menakutkan. “Ayo ikut,” katamu setelah muncul di depan pintu rumahku secara tiba-tiba, padahal belum ada lima menit yang lalu kamu pamit pulang. Aku yang terkejut karena kedatanganmu yang begitu mendadak hanya bisa bertanya “kemana?” “Udah ikut… Read More Melangkah Enam

Sebelum Selamanya*

Akhirnya pada temaram sinar purnama ke tujuhpuluh yang tepat menghunjam jantung bumi kau mendatangiku yang sedang duduk dibawah pohon kamboja tua dikelilingi merah muda bunga-bunga nan berjatuhan satu persatu tertiup angin malam dari selatan. Kau, tak jauh berbeda dengan yang pertama kukenal pada puluhan purnama lalu. Hadir tanpa banyak cakap, tanpa banyak gerak, hanya ada… Read More Sebelum Selamanya*

Untukmu yang Mencintai Kabut dan Ketinggian

Untukmu yang mencintai kabut dan ketinggian Halo, apa kabar ladang edelweis dan pucuk cantigi pagi ini? Apakah sudah mulai mekar? Kau tau, di sepanjang jalan yang kulewati bunga-bungan juga bermekaran indah, meski aku tau itu semua tak akan mampu mengalihkan perhatianmu dari bunga-bunga di puncak gunung. Tapi aku pikir sesekali kau perlu berjalan di padang… Read More Untukmu yang Mencintai Kabut dan Ketinggian