Saya ingat betul apa yang dia katakan usai membaca buku Mas Daniel Mahendra Perjalanan ke Atap Dunia “Aku kangen bertualang. Ayok kita daki Merbabu!” dan saya hanya tersenyum kegirangan sambil bersorak dalam hati “Yes, misi saya untuk meracuninya berhasil”. Saya tau jika dia sangat mencintai gunung dan hutan, karena mereka adalah alam yang telah menempa serta memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya. Saya tau pasti bagaimana kerinduannya akan tempat tinggi, akan aroma pinus dan belerang, akan gulungan kabut dan gumpalan awan, serta berada dalam dekapan dinginnya malam bertabur bintang. Namun tuntutan kehidupan membuatnya tenggelam dalam kesibukan dan semakin larut dalam pekerjaannya yang berhubungan dengan benda-benda mati.

Sudah banyak gunung yang dia daki. Namun justru Merapi yang setiap hari dilihat dari depan rumahnya belum pernah dia jamah. Merapi yang begitu dekat, yang begitu anggun, yang begitu memesona, sekaligus penuh misteri. Acapkali dia berujar pada saya bahwa ingin menjejak di puncak Merapi. Namun kesibukan membelenggunya. Merapi pun terpinggirkan, dan hanya bertahan di sudut ingatan serta menjadi mimpi yang belum terbeli. Sedangkan saya sadar diri. Merapi masih terlalu sulit bagi pemula. Saya cukup menjejak di Puncak Syarif atau Puncak Kenteng Songo Merbabu.
Namun ketika semesta berkonspirasi tak ada yang mampu melawan. Meski awalnya dipenuhi banyak perdebatan, pertimbangan, keragu-raguan, serta banyak perasaan yang sepertinya menyuruh untuk jangan pergi akhirnya kami sepakat untuk mencoba mendaki terjalnya Merapi. Perencanaan yang singkat dan packing yang dilakukan 1 jam sebelum meninggalkan Jogja menuju Selo. Dalam hati saya khawatir sekaligus excited. Melakukan sesuatu untuk pertama kali selalu membuat detak jantung bertambah cepat kan?
Pukul 20.00 WIB lebih sedikit kami bergerak meninggalkan Jogja menuju Basecamp Selo. Memasuki kawasan Ketep dingin mulai merasa menusuk tulang dan geintang terlihat benderang. Siluet Merapi Merbabu nampak megah dengan taburan cahaya lampu di lerengnya. Berhubung malam minggu, basecamp Selo penuh sesak dengan pendaki yang hendak naik dan yang hendak pergi. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum mulai mendaki dini hari.
Akhirnya saat yang dinanti pun tiba. It’s time for summit attack! Meski sempat ragu akibat gerimis yang mendadak turun kami berempat pun mulai melangkahkan kaki menuju Puncak Merapi. Setapak demi setapak kami melangkah. Meski tersenggal, saya mencoba untuk terus melangkah. Kali ini saya memutuskan untuk fokus pada trek yang saya lalui dan tidak banyak melihat ke puncak. Sebab jika saya hanya menatap puncak yang masih jauh dan terjal itu akan menurunkan mental. Di belakang terlihat Gunung Merbabu yang berdiri dengan gagah. Lampu-lampu rumah terlihat benderang laksana ribuan kunang-kunang. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat “Tak kan lari gunung dikejar,” ujar Mas Jay sambil berkelakar. Ya, tak kan lari gunung dikejar. Dia akan tetap berada di sana sampai kapanpun. Setelah berjam-jam berjalan dan melewati trek sulit berupa batuan terjal yang mudah ambrol kami pun sampai di tempat datar saat pagi menjelang.


Akhirnya menjejak di lereng gunung di atas awan gemawan bukanlah lagi menjadi mimpi. Saya berdiri di ketinggian ribuan meter, menyaksikan gumpalan awan yang berarak pelan. Di sekeliling saya terlihat deretan puncak gunung Sindoro, Sumbing, Slamet, Merbabu, Lawu, Ungaran, dan entah apa lagi. Semua berdiri dengan gagah dan anggun, tak tergoyahkan. Sedang puncak garuda berdiri tepat di belakang saya. Meski tak mendapatkan sunrise yang sempurna akibat tertutup mendung, tapi pemandangan yang terhampar di depan sudah sangat mempesona dan memanjakan mata. “Empat kali saya kesini, dan baru hari ini Merapi sangat cerah dan biru,” kata seseorang yang mengantarkan pasangan turis dari Spanyol.
Sesaat saya masih merasa bahwa ini mimpi. Tadi malam kami masih berkutat dengan pertimbangan jadi atau tidak, namun pagi ini kami sudah menyambut sinar matahari pagi di ketinggian. Morning, high place, and you! What a perfect trilogy.


Saya memang memutuskan untuk berhenti di Pasar Bubrah dan tidak melanjutkan pendakian sampai puncak. Karena bagi saya puncak bukanlah segalanya. It’s not about the destination but the journey. Saya memilih untuk berhenti di Pasar Bubrah karena memang itu yang saya inginkan. Saya juga sepenuhnya menyadari kemampuan saya yang belum siap untuk terus naik ke puncak. Ini sudah terlalu luar biasa dan diluar perkiraan saya.
Hari ini akhirnya mimpi tentang Merapi tergenapi. Terimakasih untuk kamu yang telah membawa saya hingga setinggi ini dan mengajari banyak hal selama perjalanan. Ini baru awalnya. Masih banyak gunung-gunung yang akan kita daki dan tempat-tempat lain yang akan kita jelajahi bersama kan?



Ps. Ternyata menyusuri jalan pulang jauh lebih menyeramkan dibanding naiknya. Bagi saya justru inilah petualangan yang sesungguhnya. Bahkan sampe di bawah pun masih mikir “Gila! Kok semalam saya bisa ya naik sampai ke sana”. Ternyata kanan kiri saya jurang euy! Coba kalau mendakinya siang, pasti udah jiper duluan.
“Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri”
– Daniel Mahendra –
Jogja, 11 Juni 2012
Suka sekali aku membaca tulisanmu ini, Sash 🙂
Morning, high place, and you!
What a perfect trilogy, eh? 😉
Meri meri meri….
arrghhhh…..
keren sekalii!!
Subhanallah… ini keren sekaliii!
what a perfect trilogy isn’t it?
hmmm membaca tulisanmu membuat merinding, merinding karena membayangkan betapa hebatnya berada di atas sana, dan betapa jauh lebih hebatnya Allah yang menciptakan itu semua…
but it’s really awesome… 😀
like these words:
“Hari ini akhirnya mimpi tentang Merapi tergenapi. Terimakasih untuk kamu yang telah membawa saya hingga setinggi ini dan mengajari banyak hal selama perjalanan. Ini baru awalnya. Masih banyak gunung-gunung yang akan kita daki dan tempat-tempat lain yang akan kita jelajahi bersama kan?”
How Great is our GOD
and how proud I am, that you DID it sistaa… 😀
Mbak Sash…aku mampir 🙂
Suka…suka…suka…suka…suka…
Semoga someday bisa hiking bersama…
(Pekerjaan nista kata Mas DM, inget komen2 foto rinjani di album Mas DM itu? hehe)
eeaaa…..eeaaa….. asal sama “you” mah kemenong2 oke2 ajah… hahahahhaaa..
aisshh… aku kangen munggah gunung meneh..
So, ready to the next mountain?? 😀
wah… baca blog ini selalu bikin iri!! haha..
Makin cantik ya merapi sekarang..
Anw, nice story 🙂
Salam Kenal Ya Untuk Semuanya.. 🙂
kalo ngeliat poto yang “pasar bubrah” kok kayak ngeliat plawangan sembalun (http://simplyindonesia.files.wordpress.com/2011/05/rinjani-13-a-way-to-anjani-peak.jpg?w=640) dari puncak rinjani ya, ehehe …
mmm, kalo merapi itu sama gunung mana masih dinginan siapa ya kira2? … *the rempong question :p
[…] bisa “menaklukkan” Gunung Andong dengan mudah. Mungkin gara-gara saya pernah mendadak diajak naik Merapi tanpa persiapan fisik dan akhirnya bisa sampai. Dan itu kesalahan pertama saya. Rupanya Tuhan tidak […]