Mendaki Bersama Bayi? Jangan Gegabah!

Beberapa hari terakhir beranda facebook saya penuh dengan tautan foto-foto dan interview tentang pendakian gunung drh. Nyomie dan putra kecilnya, Max. kalau kalian belum tau siapa itu drh. Nyomie dan Max, mungkin kalian bisa baca artikel ini. Kalau kamu males baca saya kasih info singkat aja ya. Jadi dokter hewan Nyomie alias Nyoman Sukyarsih adalah seorang mamak muda yang gemar naik gunung dengan putranya, Max. Dalam usianya yang baru hitungan 3, Max sudah menjejakkan kaki di 15 puncak, mulai dari bukit semacam Sikunir hingga gunung tinggi macam Semeru dan Rinjani.

max
foto diambil semena-mena tanpa ijin dari ig drh nyomie😀

Duh, sebagai sesama mamak muda yang penuh gaya dan punya mimpi buat mengajak bRe mendaki gunung-gunung tinggi kontan saya mupeng dong. Mupeng dan sedikit iri tentunya ahahahaha. Iri karena saya segede ini belum pernah menjejak banyak tempat yang sudah Max jejak. Selain itu juga iri karena saya belum seberani dan setangguh Mbak Nyomi untuk membawa bayi mendaki. Sebagai obat penawar pun saya langsung follow dan kepoin akun ig Mbak Nyomi di @nyomiez. Eh lihat ignya lagi-lagi saya mupeng, serius itu foto-foto keren banget. Jadi pengen punya foto kayak gitu #eh ahahaha.

Puas kepoin IG saya tiba-tiba jadi mikir, jangan-jangan setelah ini bakal banyak keluarga muda yang mengajak anaknya mendaki. Lalu aktivitas mendaki gunung bareng bayi jadi ngehitz seperti jaman 5 cm dulu. Emak-emak muda dan papa-papa kece yang lagi punya anak lucu-lucunya, semua berbondong-bondong naik gunung demi sebuah pengakuan, demi terlihat keren di mata teman-temannya, demi mendapatkan banyak hati merah di akun instagramnya, demi memenuhi hasrat narsis. Ouch semoga jangan sampai terjadi seperti itu.

Mendaki gunung itu bukan perkara gampang (meski sekarang banyak yang menggampangkan). Semudah dan sependek apa pun gunung itu kita tetap harus mempersiapkannya sebaik mungkin. Menurut saya Mbak Nyomie berani membawa Max mendaki karena dia memang memiliki skill mendaki yang mumpuni. Yaiyalah, secara sejak SMA dia sudah aktif di organisasi pecinta alam. Setidaknya dia tahu tentang prinsip-prinsip pendakian dan tetek bengek lainnya yang banyak enggak bisa dipahami orang awam.

Dalam salah satu tulisannya (lupa linknya ahahaha), dia bilang bahwa dalam melakukan pendakian dia mempersiapkan semuanya secara matang dan detil. Dia paham bahwa membawa bayi itu beresiko, maka demi meminimalisir terjadinya hal-hal buruk dia mempersiapkan semuanya. Dia juga paham betul akan kesiapan Max dan tidak memaksakan kehendaknya. Baginya mengajak Max mendaki bukan sekedar buat gagah-gagahan, tapi dia memang ingin mengenalkan alam sejak dini kepada putranya. Ada satu kalimatnya yang membuat mikir “Jangan sampai mendaki jadi ajang setor nyawa bayi”, duh ngilu ngebayanginnya kalau sampai hal itu terjadi.

Sejak masih pacaran, saya dan suami juga berkeinginan untuk mengenalkan alam kepada anak. Bagi kami berdua, alam adalah guru yang baik yang mampu mengajarkan banyak hal dan membentuk karakter serta kepribadian. Namun hingga kini bRe berusia setahun kami masih pending dulu keinginan untuk mendaki. Masih banyak PR yang harus kami selesaikan. Mulai dari melatih fisik kami terlebih dulu (kan nggak asyik kalau anakknya kesenengan lari-larian di savanna tapi emak bapaknya malah tepar kelelahan), membuat perencanaan yang matang, hingga melihat kesiapan fisik bRe.

Kami juga masih belajar satu hal, bahwa mendaki itu bukan tentang ajak penakklukkan. Esensi dari mendaki bukan untuk pamer dan sombong serta terlihat keren. Mendaki adalah sarana untuk berlatih menempa diri, menguji kekuatan hati, serta berlajar menjadi rendah hati.

Meski semangat saya menggebu-gebu, tapi saya sadar diri, mengajak bRe mendaki sekarang bukanlah waktu yang tepat. Dan sepertinya semesta memang bilang seperti itu. Rencana mendaki Gunung Nglanggeran yang pendek di ulang tahun pertama bRe gagal total gara-gara ayahnya terserang cacar. Jadi mungkin saya memang harus bersabar sejenak menunggu waktu yang tepat.

museum gunung merapi
Pemanasan sebelum mendaki Merapi, main ke museumnya lebih dulu.

Sebagai obat penawar kecewa, kita kenalan sama gunung lewat museumnya dulu aja ya bRe. Lihat miniatur Merapi dulu aja. Nanti jika semesta sudah mengijinkan dan kamu sudah lebih kuat serta siap, kita pasti akan mendaki bersama. Siapa tau malah bisa ketemu dokter Nyomie dan Max di pendakian berikutnya ya.

 

 

20 thoughts on “Mendaki Bersama Bayi? Jangan Gegabah!

  1. Aku jg pernah baca mba may bawa anaknya naik gunung di tigadibumi.wordpress.com mb. Mama muda hebat dan tentunya berpengalaman kan ya yg berani bawa balita naik gunung. Siap fisik dan mental kalo baby nya rewel, capek shg harus digendong, atau yg parah kalo ternyata malah sakit. Ouch

      1. wow ternyata banyak mommy hebat ya. saya aja yg single bawa barang sendiri ud ribet gimana bawa baby dan barangnya baby. huebat bener deh ya

  2. Mba… cuma mau koment saja.. usia emas bayi adalah 0-5 tahun. pada usai tesebut, otak bayi mengalami perkembangan yang eksponesial. Di butuhkan energi besar bayilta untuk tumbh dan berkembang, terutama otak. Otot keseluruhan tubuh hanya membutuhkan oksigen 20%, sedangkan otak 40%, bisa dikatakan ota 20x lebih rakus akan oksigen. pertanyaan sekarang, semakin tinggi suatu tempat semakin minim oksigen. Belum lagi ditambah aktivitas otot. Bisa diyangkan anak sekecil itu harus menerima pasokan oksigen yang cukup tipis dibanding daerah tinggalnya, kecuali sudah teradaptasi dengan lingkungan, ex.mongol, tibet, nepal dsb. Kedua… setaip ketinggian sekian ratus meter, tekanan udara semakin tinggi. Katakan 3000 mdpl setara dengan tekana 3 ATM ya setara nyelam 30m. Bisa dibayangkan pada tekanan sedemikian besar, apalagi anak keceil. berpikirlah ulang….

    1. Nah ini nih komen yang aku tunggu dan jadi penyeimbang. Hal ini yang banyak orang-orang nggak tau, dan nggak mau tau. Mas Dhave bikin postingan sih tentang ini, keren buat referensi. Secara dirimu kan jauh lebih paham soal ginian. Biar bisa jadi penyeimbang🙂

  3. Kemarin-kemarin kalau maen mentok cuma sp New Selo mbak😀
    wah eru banget ya udah sampai ke museum merapi, ane dari dulu ngempet banget pengen kesana. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s